Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh - Selamat Datang Di SMA IBNU HAJAR BOARDING SCHOOL - PUTRA - Jl. Bungur II, Harjamukti Cimanggis Depok No.Hp 0896 7811 5102

http://ibnuhajarpersada.com/

http://ibnuhajarpersada.com/

http://ibnuhajarpersada.com/


http://ibnuhajarpersada.com/

http://ibnuhajarpersada.com/

http://ibnuhajarpersada.com/

http://ibnuhajarpersada.com/




https://ihbs.or.id/

Tampilkan postingan dengan label tazkiyatun nufus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tazkiyatun nufus. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Desember 2014

Menolak Kebenaran Adalah Bentuk Kesombongan

Menolak Kebenaran Adalah Bentuk Kesombongan

Syaikh Muhammad bin Soleh Al-‘Utsaimin rahimahullah
www.ilmusunnah.com

Dari hadis ‘Abdullah Ibn Mas’oud, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Tidak akan masuk Syurga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar zarrah.”

Seorang lelaki bertanya, “Sesungguhnya orang lelaki menyukai apabila bajunya bagus dan kasutnya juga baik?”

Rasulullah pun berkata, “Sesungguhnya Allah itu indah, Dia menyukai yang indah. Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan memandang rendah terhadap manusia.” (Hadis Riwayat Muslim, no. 91)

Baca kupasan selengkapnya di website kami » http://www.ilmusunnah.com/menolak-kebenaran-adalah-bentuk-kesombongan/

Selasa, 16 Agustus 2011

Penghalang Terkabulnya Doa

Tanya : Saya sering berdoa. Tapi, saya merasakan bahwa doa saya jarang terkabul. Mungkin doa saya terhalang. Bisa dijelaskan faktor-faktor penyebabnya ?

Jawab : Adalah sangat baik jika kita memperbanyak doa, sebab memperbanyak doa adalah merupakan salah satu perintah Allah sebagaimana firman-Nya :



وَقَالَ رَبّكُـمْ ادْعُونِيَ أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنّ الّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنّمَ دَاخِرِينَ

Dan Tuhanmu berfirman : "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina." [QS. Al-Mukmin : 60].

Namun jika kita merasa bahwa doa kita belum terkabulkan, maka kita tidak boleh putus asa. Kita harus ber-husnudhan pada Allah ta’ala dengan terus introspeksi terhadap diri kita sendiri. Ketika berdoa, kita harus memperhatikan adab-adab berdoa, diantaranya : ikhlash, sungguh-sungguh, khusyuk, penuh kerendahan, dan yakin bahwa doa kita pasti akan dikabulkan (sebagaimana firman Allah di atas). Awalilah doa kita dengan sanjungan kepada Allah ta’ala dan shalawat kepada Nabi-Nya Shallallaahu ’alaihi wasallam. Bisa jadi doa kita terhalang karena beberapa faktor, diantaranya :

1. Makan dan minum dari yang haram, mengkonsumsi barang haram berupa makanan, minuman, pakaian, dan hasil usaha yang haram. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لا يُقبَلَ إِلا طَيِّباً وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ اْلمُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ اْلمُرْسَلِيْنَ فَقَالَ { يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوْا صَالِحاً إِنِّي بِمَا تَعْمَلُوْنَ عَلِيْمٌ } وَقَالَ { يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُلُوْا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكمْ } ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاء يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِاْلحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ ؟

Wahai manusia, sesungguhnya Allah ta’ala adalah Maha Baik, tidak menerima kecuali yang baik, dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada para Rasul. Allah ta’ala berfirman : “Hai Rasul-Rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih” (QS. Al-Mu’minuun : 51). Dan Allah berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, makanlah dari rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu” (QS. Al-Baqarah : 172). Kemudian Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menceritakan seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut dan berdebu lalu menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berkata,”Ya Rabb..ya Rabb…”, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya dari yang haram, dicukupi dari yang haram, maka bagaimana mungkin dikabulkan doanya?” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 1015].

2. Minta cepat terkabul doa yang akhirnya meninggalkan doa. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


يُسْتَجَابُ لأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ يَقُوْلُ دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِيْ

Dikabulkan doa seseorang dari kalian selama ia tidak buru-buru,(dimana) ia berkata : ”Aku sudah berdoa namun belum dikabulkan doaku” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 5981 dan Muslim no. 2735].


لا يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيْعَةِ رَحِمٍ مَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ قِيْلَ يَا رَسوْلَ اللهِ مَا اْلاِسْتِعْجَالُ قَالَ يَقُوْلُ قَدْ دَعَوْتُ وَقَدْ دَعَوْتُ فَلَم أَرَ يَسْتَجِيْبُ لِيْ فَيَسْتحْسِرَ عِنْدَ ذَلِكَ وَيَدَعُ الدُّعَاءَ

Senantiasa doa seorang hamba akan dikabulkan selama ia tidak berdoa untuk berbuat dosa atau memutuskan silaturahim, dan selama ia tidak meminta dengan tergesa-gesa (isti’jal)”. Ada yang bertanya : “Ya Rasulullah, apa itu isti’jal ?”. Jawab beliau : “Jika seseorang berkata : ‘Aku sudah berdoa, memohon kepada Allah, tetapi Dia belum mengabulkan doaku’. Lalu ia merasa putus asa dan akhirnya meninggalkan doanya tersebut” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2735].

3. Melakukan maksiat dan apa yang diharamkan Allah. Seorang penyair berkata : “Bagaimana mungkin kita mengharap terkabulnya doa, sedangkan kita sudah menutup jalannya dengan dosa dan maksiat”.

4. Meninggalkan kewajiban yang diwajibkan oleh Allah. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِاْلمَعْرُوْفِ وَلْتَنْهَوُنَّ عَنِ اْلمُنْكَرِ أَوْ لَيُوْشِكَنَّ اللهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَاباً مِنْهُ ثُمَ تَدْعُوْنَهُ فَلا يُسْتَجَابُ لَكُمْ

Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, hendaklah kalian menyuruh yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran atau (kalau tidak kalian lakukan) maka pasti Allah akan menurunkan siksa kepada kalian, hingga kalian berdoa kepada-Nya, tetapi tidak dikabulkan” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 2169, Al-Baghawi dalam Syarhus-Sunnah 14/3453, dan Ahmad no. 23360. At-Tirmidzi berkata : “Hadits ini hasan”].

5. Berdoa yang isinya mengandung perbuatan dosa atau memutuskan silaturahim.

6. Tidak bersungguh-sungguh dalam berdoa. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


إِذَا دَعَوْتُمُ اللهَ فَاعْزِمُوْا فِي الدُّعَاءِ وَلا يَقُوْلَنَّ أَحَدُكُمْ إِنْ شِئْتَ فَأَعْطِنِيْ فَإِنْ اللهَ لا مُسْتَكْرِهَ لَهُ

Apabila seseorang dari kamu berdoa dan memohon kepada Allah, janganlah ia mengucapkan : ‘Ya Allah, ampunilah dosaku jika Engkau kehendaki, sayangilah aku jika Engkau kehendaki, dan berilah rizki jika engkau kehendaki ‘. Akan tetapi, ia harus bersungguh-sungguh dalam berdoa. Sesungguhnya Allah berbuat menurut apa yang Ia kehendaki dan tidak ada yang memaksa-Nya” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 7026].

7. Tidak khusyu’, lalai, dan terkuasai hawa nafsu. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :


ادْعُوْا اللهَ وَأَنْتُمْ مُوْقِنُوْنَ بِاْلإِجَابَةِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ لا يَسْتَجِيْبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاهٍ

Berdoalah kepada Allah dan kamu yakin akan dikabulkan. Ketahuilah bahwa Allah tidak akan mengabulkan doa orang yang hatinya lalai dan tidak khusyu’ “ [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 3479 dan Al-Hakim no. 1817; hasan lighairihi].

Kalaupun misalnya Allah ta’ala belum mentaqdirkan doa kita terwujud, kita harus sabar dan ridla bahwasannya Allah ta’ala mempunyai hikmah yang sangat besar. Allah ta’ala sangat sayang terhadap hamba-Nya dan seorang hamba tidak tahu tentang akibat urusannya. Terkadang seseorang mengharapkan sesuatu, padahal itu jelek buat dia. Sebaliknya, seseorang membenci sesuatu, padahal itu baik buat dia. Wallaahu a’lam.


sumber:
http://abul-jauzaa.blogspot.com/

Taubat Nashuha

Manusia tidak lepas dari kesalahan, besar maupun kecil, disadari maupun tanpa disengaja. Apalagi jika hawa nafsu mendominasi jiwanya, ia akan menjadi bulan-bulanan berbuat kemaksiatan, ketaatan seolah tidak memiliki nilai berarti.

Meski manusia di rundung oleh kemaksiatan dan dosa yang menumpuk, bukan berarti tidak ada lagi pintu untuk memperbaiki diri, karena Rahmat Allah selalu terbuka, yaitu dengan bertaubat dari perbuatan-perbuatan yang bisa mengantarkannya ke jurang neraka. Taubat yang di lakukan haruslah total, yang di kenal dengan taubat nashuha.


Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

"Setiap anak adam (manusia) berbuat kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat". [HR. at-Tirmidzi, no 2499 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami' Ash Shaghir no 4391]

"Seandainya hamba-hamba Allah tidak ada yang berbuat dosa, tentulah Allah akan menciptakan makhluk lain yang akan berbuat dosa kemudian mengampuni mereka". [HR.Al-Hakim, hlm 4/246 dan di shahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Shahihah no 967]

Dengan bertaubat kita dapat membersihkan hati dari noda yang mengotorinya . Sebab dosa menodai hati, dan membersihkannya merupakan kewajiban.

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

"Sesungguhnya bila seorang mu'min berbuat dosa, maka akan timbul satu titik noda hitam di hatinya. Jika ia bertaubat meninggalkan perbuatan tersebut dan memohon ampunan kepada Allah, maka hatinya kembali bersih. Tetapi bila menambah perbuatan dosa, maka bertambahlah noda hitam tersebut sampai memenuhi hatinya. Maka itulah ar raan (penutup hati) yang telah disebutkan Allah dalam firman-Nya, "sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka" (QS. Al-Muthaffifin: 14). [HR.Ibnu Majah no 4244 dan dihasankan oleh Albani dalam Shahih Al Jaami' no 1666]

Allah juga menganjurkan kita untuk segera bertaubat dan beristighfar, karena hal demikian jauh lebih baik daripada larut dalam dosa.

Allah berfirman (yang artinya):

"Maka jika mereka bertaubat, itu lebih baik bagi mereka dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat. Dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung dan tidak pula penolong di muka bumi." (QS. At-Taubah: 74).

Rasulullah sendiri telah memberikan contoh dalam bertaubat ini. Beliau Shallalahu 'alaihi wa Sallam banyak bertaubat dan beristighfar, sampai-sampai para sahabat mengitungnya sebanyak lebih dari seratus kali majelis, sebagaimana Nafi' maula Ibnu Umar telah menyatakan:

"Ibnu Umar pernah mengitung (bacaan istighfar) Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam dalam suatu majlis sebelum bangkit darinya seratus kali (yang berbunyi): "Ya Rabbku, ampunilah aku dan terimalah taubatku. Sesungguhnya Engkau Maha penerima taubat lagi Maha pengampun". [HR. Tirmidzi no 3434 dan di shahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Shahihah no 556]

Pengertian taubat nashuha.

Yang di maksud dengan taubat nashuha adalah kembalinya seorang hamba kepada Allah dari dosa yang pernah di lakukannya , baik sengaja ataupun karena ketidaktahuannya, dengan jujur, ikhlas, kuat dan di dukung dengan ketaatan-ketaatan yang mengangkat seorang hamba mencapai kedudukan para wali Allah yang muttaqin (bertaqwa) dan (ketaatan) yang menjadi pelindung dirinya dari setan.

Hukum dan anjuran taubat nashuha.

Hukum taubat nashuha adalah fardhu 'ain atas setiap individu.

dalilnya:

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala yang artinya:

"Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung".(QS.An-Nuur: 31).

"Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya".(QS. At-Tahrim: 8)

Sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam;

"Wahai kaum musminin, bertaubatlah kepada Allah, karena saya juga bertaubat kepada Allah sehari seratus kali". [HR. Muslim 17/24 dengan syarh Nawawi, dari hadist 'Abdullah bin 'Umar.]

Umat islam juga telah bersepakat tentang kewajiban bertaubat, sebagaimana dinyatakan oleh Imam Al Qurthubi: "(para ulama) umat telah ijma' (bersepakat) bahwa hukum bertaubat adalah fardhu (wajib) atas seluruh mukminin" (Al Jaami' Li Ahkam Al Qur'an 5/90) dan Ibnu Qudamah juga menyatakan demikian (Mukhtashar Minhaaj Al Qashidin, hlm 322).

Keluasan Rahmat Allah dan keutamaan taubat nashuha.

Manusia hendaklah jangan khawatir jika taubatnya tidak di terima, karena Rahmat Allah sangat luas, sebagaimana do'a para malaikat yang di jelaskan dalam firman-Nya, (yang artinya): "Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan bagi orang-orang yang bertaubat dan yang mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala". (QS. Al Mu'min: 7).

Syarat taubat nashuha.

Agar taubat nashuha bisa diterima Allah Subhanahu wa Ta'ala, ada beberapa syarat yang harus dipenuhinya :

1.Islam, Taubat yang diterima hanyalah dari seorang muslim. Adapun orang kafir, maka taubatnya adalah dengan masuk memeluk islam. Allah berfirman (artinya) : "Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang diantara mereka, barulah ia mengatakan "sesungguhnya saya bertaubat sekarang". Dan tidak pula diterima taubat orang-orang yang mati sedang mereka dalam kekafiran . Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih. (QS. An Nisaa': 18)

2.Ikhlas.Taubat yang diterima secara syari'at, hanyalah yang di dasari dengan keikhlasan . Taubat karena riya' atau tujuan duniawi tidak dikatakan sebagai taubat syar'i. Allah berfirman, (artinya): " Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguhpada agama Allah dan tulus ikhlas mengerjakan agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama -sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar". (QS. An Nisaa': 146).

3.Mengakui dosanya. Taubat tidak sah kecuali setelah mengetahui perbuatan dosa tersebut dan mengakui kesalahannya, serta berharap selamat dari akibat buruk perbuatan tersebut.

4.Penuh penyesalan. Taubat hanya bisa diterima dengan menunjukkan penyesalannya yang mendalam. Rasulullah Shallalalhu 'alaihi wa Sallam bersabda: "penyesalan adalah taubat". (HR. Ibnu Majah no 4252 dan Ahmad no 3568 dan yang lainnya. Hadist ini di shahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Al Jaami' Al Shaghir no 6678)

5.Meninggalkan kemaksiatan dan mengembalikan hak-hak kepada pemiliknya. Orang yang bertaubat wajib meninggalkan kemaksiatannya dan mengembalikan setiap hak kepada pemilkinya, jika berupa harta atau sejenisnya. Kalau berupa tuduhan fitnah atau sejenisnya maka dengan cara meminta maaf. Apabila berupa ghibah (mengunjing) maka dengan cara memohon di halalkan selam permohonan tersebut tidak menimbulkan pengaruh buruk yang lain. Bila ternyata berimplikasi buruk, maka cukuplah dengan mendo'akannya untuk meraih kebaikan.

6.Masa bertaubat sebelum nafas berada di kerongkongan(sakratul maut) dan sebelum matahari terbit di arah barat. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam telah menjelaskan dalam sabdanya: "Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba sebelum nafasnya berada di kerongkongan". (HR. Tirmidzi no 3537 dan dihasankan oleh Al Albani dalam Shahih Al Jaami' Ash Shaghir no 1899). dan sabdanya yang lain: "Hijrah tidak terputus sampai terhentinya masa untuk bertaubat, dan taubat tidak terputus sampai matahari terbit dari sebelah barat". (HR. Abu Dawud no 2479 dan Ahmad dalam Musnad 3/99 dan di shahihkan dalam Shahih Al Jaami' no 7469).

7.Istiqamah setelah taubat. Allah berfirman, (artinya): "Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan juga orang-orang yang telah betaubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan". (QS.Huud: 112).

8.Mengadakan perbaikan setelah taubat. Allah berfirman, (artinya): "Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah "salaamun 'alaikum". Rabb mu telah menetapkan akan diri-Nya kasih sayang, yaitu bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan , maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (QS. Al An'am: 54).

Yang harus di ingat ketika bertaubat:

  • Meyakini bahwa Allah Maha mengetahui dan Maha melihat. Allah mengetahui segala yang tersembunyi dan yang di sembunyikan di dalam hati, meskipun kita tidak melihatnya tetapi Dia pasti melihatnya.

  • Lihat keagungan Dzat yang anda durhakai dan jangan melihat kepada kecilnya objek maksiat, sebagaimana firman-Nya, (artinya): " Kabarkan kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih"(QS. Al Hijr: 50).

  • Ingatlah bahwa dosa itu semuanya jelek dan buruk, karena ia menjadi penghalang dalam mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

  • Meninggalkan tempat-tempat kemaksiatan dan teman-teman yang berperangai buruk, yang bisa membantunya dalam berbuat dosa serta memutus hubungan dengan mereka selam mereka belum berubah menjadi baik.


Hal-hal yang menghalangi taubat.

Diantara hal-hal yang menghalangi taubat adalah:

  1. Bid'ah dalam agama. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda (yang artinya): "Sesungguhnya Allah menutup taubat dari semua ahli bid'ah".( Ash Shahihah no 1620).

  2. Kecanduan minuman keras . Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda (artinya): "Barangsiapa yang minum khamr(minuman keras), maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh malam. Jika ia bertaubat, maka Allah akan menerimanya . Namun jika ia mengulanginya lagi, maka pantaslah bila Allah memberinya minuman dari sungai khibaal. Ada yang bertanya : "Apa itu sungai khibaal.? Beliau menjawab, "Nanah penduduk neraka". [HR.Ahmad 2/189 dan di shahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Al Jaami' Ash Shaghir no 6188].


Demikianlah secara ringkas risalah tentang taubat nashuha. Semoga dapat menjadi pengingat kita untuk senantiasa bertaubat kepada Allah Azza wa Jalla.

Disadur dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun IX/1426H/2005M, di ringkas oleh ust Kholid Syamhudi dari At Taubah An Nashuha, karya Syaikh Salim bin Id Al Hilali, penerbit Al Maktabah Al Islamiyyah Yordania dan Dar Ibnu Beirut, cet III, Th.1413H.