Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh - Selamat Datang Di SMA IBNU HAJAR BOARDING SCHOOL - PUTRA - Jl. Bungur II, Harjamukti Cimanggis Depok No.Hp 0896 7811 5102

http://ibnuhajarpersada.com/

http://ibnuhajarpersada.com/

http://ibnuhajarpersada.com/


http://ibnuhajarpersada.com/

http://ibnuhajarpersada.com/

http://ibnuhajarpersada.com/

http://ibnuhajarpersada.com/




https://ihbs.or.id/

Tampilkan postingan dengan label Syiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syiah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 April 2015

Al Imam Ja`far Ash Shadiq

Semenjak dahulu Syi`ah mengklaim bahwa mereka mengikuti manhaj dan langkah Ja`far Ash Shadiq. Madzhab mereka dalam bidang fikih adalah ucapan-ucapan dan pendapat-pendapatnya. Karena mereka menamakan dirinya sebagai Ja`fariyun, padahal Ja`far berlepas diri dari mereka dan orang-orang seperti mereka. Mereka tidak berada di atas manhaj dan langkah-langkahnya dan dia bukanlah pemilik manhaj dan langkah-langkah yang diklaim tersebut.

Mereka menukil dari Ja`far tanpa sanad atau dengan sanad maudhu` (dipalsukan) atau dhaif atau maqthu` (terputus). Dan ini berlaku untuk para imam yang lain. Sudah dimaklumi bersama bahwa Syi`ah sangat kurang dan lemah dalam ilmu sanad, karena mereka tidak berpengalaman di dalam agamanya. Agama mereka adalah agama masyayikh mereka. Apa yang dikatakan oleh masyayikh, mereka menukilnya dari mereka tanpa memilih dan memilah. Salah seorang Syaikh Rafidhah telah mengakui dan dan membenarkan hal ini bahwa mereka menerapkan ilmu al jarh wa at ta`dil sebagaimana ahlus sunnah, maka tidak tersisa sedikitpun dari hadits mereka. Orang Syi`ah telah banyak berdusta atas Ja`far Ash Shadiq, mereka menasabkan kepadanya banyak sekali dari riwayat-riwayat yang dibuat-buat, hingga pada akhirnya mereka pada perubahan dan penggantian ayat-ayat Al Qur-an.

Sebagaimana mereka menasabkan sebagian kitab kepada Ja`far. Padahal para ahli ilmu bersaksi bahwa kitab-kitab itu dipalsukan atas namanya. Diantara kitab-kitab tersebut adalah:
  1. Kitab Rasail Ikhwan Ash Shafa. Kitab ini dikarang lebih dari dua ratus tahun setelah wafatnya Ja`far, pada waktu Dinasti Buwaihiyyah. Pada abad ketiga hijriyah (321 H - 447 H). Sementara Ja`far telah wafat pada tahun 148 H. Kitab ini banyak berisi kekufuran, kebodohan dan juga filsafat buta yang tidak layak bagi Ja`far Ash Shadiq dan ilmunya. Semoga Allah merahmati beliau dengan rahmat yang luas.
  2. Kitab Al Ja`far, yaitu kitab ramalan-ramalan tentang kejadian dan ilmu ghaib.
  3. Kitab Ilm Al Bithaqah.
  4. Kitab Al Jadawil atau Jadawil Al Hilal, telah memalsukan atas nama Abdullah bin Mu`awiyah salah seorang yang sudah terkenal dengan kebohongan.
  5. Kitab Al Haft.
  6. Kitab Ikhtilaj Al A`dha.
Juga kitab-kitab lain seperti Qaus Qazah (pelangi) dan disebut Qaus Allah, Tafsir Al Qur-an, Manafi` Al Qur-an, Qira`ah Al Qur-an fi Al Manam, Tafsir Qira`ah As Surah fi Al Manam dan Al Kalam `ala Al Hawadits.

Tidak ada satu penetapan yang jelas di kalangan Syi`ah bahwa kitab-kitab ini adalah kitab-kitab Ja`far Ash Shadiq selain oleh Abu Musa Jabir bin Hayyan Ash Shufi Ath Tharthusi Al Kimai (200 H). Ibnu Hayyan ini diragukan tentang agama dan amanahnya. Dia memang menjadi teman bagi Ja`far, tetapi bukan Ja`far Ash Shadiq melainkan Ja`far Al Barmaki. Diantaranya yang mengukuhkannya adalah Ibnu Hayyan tinggal di Baghdad sementara Ja`far Ash Shadiq tinggal di Madinah. Juga abad pertama dan abad kedua tidak membutuhkan kitab-kitab dan risalah-risalah seperti yang telah dinasabkan kepada Ja`far Ash Shadiq ini.

Sekapur Sirih Tentang Kehidupan Ja`far Ash Shadiq

Dia adalah Imam Ja`far bin Muhammad bin Ali Zainal Abidin bin Al Husain bin Ali bin Abu Thalib. Begitu pula ia adalah keturunan dari Abu Bakar Ash Shiddiq, karena ibunya adalah Ummu Farwah binti Al Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Ash Shiddiq. Dan nenek dari ibunya adalah Asma binti Abdurrahman bin Abu Bakar Ash Shiddiq. Semoga Allah meridhai mereka semua. Karena itu Ja`far Ash Shadiq berkata, Aku dilahirkan oleh Abu Bakar dua kali. (Syiar `A`lam An Nubala : 259).

Dia dilahirkan di Madinah tahun 80 H dian wafat tahun 148 H dalam usia mendekati 68 tahun. Dia wafat di tempat dia dilahirkan yaitu Madinah. Dia meninggalkan tujuh putra: Ismail, Abdullah, Musa Al Kazhim, Ishaq, Muhammad, Ali dan Fathimah.

Dia benar-benar shadiq, jujur dalam ucapannya dan perbuatannya, tidak dikenal dari diri Ja`far selain sifat shidq (jujur, benar), karena itu digelar ash shadiq. Dia juga digelari al imam oleh ahlus sunnah karena kedalaman dan keluasan ilmunya. Ja`far menimba ilmu dari para sahabat besar seperti Sahl bin Sa`ad As Sa`idi dan Anas bin Malik Radhiyallahu anhu dan dari ulama tabi`in seperti Atha` bin Abi Rabah, Muhammad bin Syihab Az Zuhri, Urwah bin Az Zubair, Muhammad bin Al Munkadir, Abdullah bin Abu Rafi` dan Ikrimah Mawla bin Al Abbas Radhiyallahu anhuma.

Diantara murid-muridnya adalah Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Sufyan Ats Tsauri, Syu`bah bin Al Hajjaj dan Sufyan bin Uyainah. Para ulama Islam telah banyak memuji dan menyanjung.

Ja`far Ash Shadiq termasuk orang yang sangat mencintas kakeknya Abu Bakar Ash Siddiq dan juga Umar bin Khaththab Radhiyallahu `anhu. Beliau sangat mengagungkan keduanya karena itu beliau sangat membenci Rafidhah yang telah membenci keduanya.

Ja`far juga membenci Rafidhah yang telah menetapkannya sebagai imam yang ma`sum. Diriwayatkan oleh Abdul Jabbar bin Al Abbas Al Hamdzani bahwa Ja`far bin Muhammad mendatangi mereka ketika mereka hendak meninggalkan Madinah, dia (Ash Shadiq) berkata,
Sesunggunya kalian insya Allah adalah termasuk orang-orang shalih di negeri kalian, maka sampaikanlah kepada mereka ucapanku, `Barangsiapa mengira bahwa aku adalah imam ma`shum yang wajib ditaati maka aku benar-benar tidak ada sangkutpaut dengannya. Dan barangsiapa mengira bahwa aku berlepas diri dari Abu Bakar dan Umar maka aku berlepas diri daripadanya`. (Syiar `A`lam An Nubala : 259).

Muhammad bin Fudhail menceritakan dari Salim bin Abu Hafshah, Saya bertanya kepada Abu Ja`far dan putranya, Ja`far, tentang Abu Bakar dan Umar. Maka dia berkata, `Wahai Salim cintailah keduanya dan berlepas diri musuh-musuhnya karena keduanya adalah imam huda.` Kemudian Ja`far berkata, `Hai Salim apakah ada orang yang mencela kakeknya? Abu Bakar adalah kakekku. Aku tidak akan mendapatkan syafaat Muhammad Shallallahu `alaihi wasallam pada hari kiamat jika aku tidak mencintai keduanya dan memusuhi musuh-musuhnya.` Ucapan imam Ash Shadiq seperti ini dia ucapkan dihadapan bapaknya, Imam Muhammad bin Ali Al Baqir dan dia tidak mengingkarinya. (Tarikh Al Islam 6/46)

Hafsh bin Ghayats murid dari Ash Shadiq berkata, Saya mendengar Ja`far bin Muhammad berkata, `Aku tidak mengharapkan syafaat untukku sedikit pun melainkan aku berharap syafaat Abu Bakar semisalnya. Sungguh dia telah melahirkanku dua kali`.

Sebagaimana murid Ja`far yang tsiqat lainnya yaitu Amr bin Qa-is Al Mulai mengatakan, Saya mendengar Ibnu Muhammad (Ash Shadiq) berkata, `Allah ta`ala berlepas diri dari orang yang berlepas diri dari Abu Bakar dan Umar`. (Syiar Alam An Nubala : 260).

Zuhair bin Mu`awiyah berkata, Bapaknya berkata kepada Ja`far bin Muhammad, `Sesungguhnya saya memiliki tetangga, dia mengira bahwa engkau berbara` (berlepas diri) dari Abu Bakar dan Umar`. Maka Ja`far berkata, `Semoga Allah berbara` dari tetanggamu itu, demi Allah sesungguhnya saya berharap mudah-mudahan Allah memberikan manfaat kepadaku karena kekerabatanku dengan Abu Bakar. Sungguh aku telah mengadukan (rasa sakit) maka aku berwasiat kepada pamanku (dari ibu) Abdurrahman bin Al Qasim. (At Taqrib, Ibnu Hajar, Tarikh Al Islam, Adz Dzahabi).

Semua teks ini adalah dari Ja`far Ash Shadiq, secara jelas menjelaskan kecintaanya kepada Abu Bakar dan Umar, wala`nya kepada keduanya serta taqarrubnya kepada Allah dengan wasilah mahabbah dan wala` tersebut. Juga menunjukkan kebencian kepada yang membenci keduanya dan bara` kepada yang bara` dari keduanya. Bahkan bara`nya dari orang yang meyakini imamah dan kema`shumannya. Dan permohonannya kepada Allah agar Allah memutus segala Rahmat-Nya dari orang-orang yang memusuhi Abu Bakar dan Umar.

Maraji`: Gen Syi`ah, Sebuah Tinjauan Sejarah Penyimpangan Aqidah dan Konspirasi Yahudi, Mamduh Farhan Al Buhairi, Penerbit Darul Falah

Rabu, 15 April 2015

17 alasan ulama Islam mengkafirkan kaum Syi’ah

SEJUMLAH tujuh belas doktrin Syi’ah yang selalu mereka sembunyikan dari kaum muslimin sebagai bagian dari pengamalan doktrin taqiyah (menyembunyikan Syi’ahnya). Ketujuh belas doktrin ini terdapat dalam kitab suci Syi’ah:

1. Dunia dengan seluruh isinya adalah milik para imam Syi’ah. Mereka akan memberikan dunia ini kepada siapa yang dikehendaki dan mencabutnya dari siapa yang dikehendaki (Ushulul Kaafi, hal.259, Al-Kulaini, cet. India).

Jelas Doktrin semacam ini bertentangan dengan firman Allah SWT QS: Al-A’raf 7: 128, “Sesungguhnya bumi adalah milik Allah, Dia dikaruniakan kepada siapa yang Dia kehendaki”. Kepercayaan Syi’ah diatas menunjukkan penyetaraan kekuasaan para imam Syi’ah dengan Allah dan doktrin ini merupakan aqidah syirik.

2. Ali bin Abi Thalib yang diklaim sebagai imam Syi’ah yang pertama dinyatakan sebagai dzat yang pertama dan terakhir, yang dhahir dan yang bathin sebagaimana termaktub dalam surat Al-Hadid, 57: 3 (Rijalul Kashi hal. 138).

Doktrin semacam ini jelas merupakan kekafiran Syi’ah yang berdusta atas nama Khalifah Ali bin Abi Thalib. Dengan doktrin semacam ini Syi’ah menempatkan Ali sebagai Tuhan. Dan hal ini sudah pasti merupakan tipu daya Syi’ah terhadap kaum muslimin dan kesucian aqidahnya.

Para imam Syi’ah merupakan wajah Allah, mata Allah dan tangan-tangan Allah yang membawa rahmat bagi para hamba Allah (Ushulul Kaafi, hal. 83).

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib oleh Syi’ah dikatakan menjadi wakil Allah dalam menentukan surga dan neraka, memperoleh sesuatu yang tidak diperoleh oleh manusia sebelumnya, mengetahui yang baik dan yang buruk, mengetahui segala sesuatu secara rinci yang pernah terjadi dahulu maupun yang ghaib (Ushulul Kaafi, hal. 84).

Keinginan para imam Syi’ah adalah keinginan Allah juga (Ushulul Kaafi, hal. 278).

Para imam Syi’ah mengetahui kapan datang ajalnya dan mereka sendiri yang menentukan saat kematiannya karena bila imam tidak mengetahui hal-hal semacam itu maka ia tidak berhak menjadi imam (Ushulul Kaafi, hal. 158).

Para imam Syi’ah mengetahui apapun yang tersembunyi dan dapat mengetahui dan menjawab apa saja bila kita bertanya kepada mereka karena mereka mengetahui hal ghaib sebagaimana yang Allah ketahui (Ushulul Kaafi, hal. 193).

Allah itu bersifat bada’ yaitu baru mengetahui sesuatu bila sudah terjadi. Akan tetapi para imam Syi’ah telah mengetahui lebih dahulu hal yang belum terjadi (Ushulul Kaafi, hal. 40).

Menurut Al-Kulaini (ulama besar ahli hadits Syi’ah), Bahwa Allah tidak mengetahui bahwa Husein bin Ali akan mati terbunuh. Menurut mereka Tuhan pada mulanya tidak tahu karena itu Tuhan membuat ketetapan baru sesuai dengan kondisi yang ada. Akan tetapi imam Syi’ah telah mengetahui apa yang akan terjadi. Oleh sebab itu menurut doktrin Syi’ah Allah bersifat bada’ (Ushulul Kaafi, hal. 232).

Para imam Syi’ah merupakan gudang ilmu Allah dan juga penerjemah ilmu Allah. Para imam Syi’ah bersifat Ma’sum (Bersih dari kesalahan dan tidak pernah lupa apalagi berbuat Dosa). Allah menyuruh manusia untuk mentaati imam Syi’ah, tidak boleh mengingkarinya dan mereka menjadi hujjah (Argumentasi Kebenaran) Allah atas langit dan bumi (Ushulul Kaafi, hal. 165).

Para imam Syi’ah sama dengan Rasulullah Saw (Ibid).

Yang dimaksud para imam Syi’ah adalah Ali bin Abi Thalib, Husein bin Ali, Ali bin Husein, Hassan bin Ali dan Muhammad bin Ali (Ushulul Kaafi, hal. 109)

Al-Qur’an yang ada sekarang telah berubah, dikurangi dan ditambah (Ushulul Kaafi, hal. 670). Salah satu contoh ayat Al-Qur’an yang dikurangi dari aslinya yaitu ayat Al-Qur’an An-Nisa’: 47, menurut versi Syi’ah berbunyi: “Ya ayyuhalladziina uutul kitaaba aaminuu bimaa nazzalnaa fie ‘Aliyyin nuuran mubiinan”. (Fashlul Khitab, hal. 180).

Menurut Syi’ah, Al-Qur’an yang dibawa Jibril kepada Nabi Muhammad ada 17 ribu ayat, namun yang tersisa sekarang hanya 6660 ayat (Ushulul Kaafi, hal. 671).

Menyatakan bahwa Abu Bakar, Umar, Utsman bin Affan, Muawiyah, Aisyah, Hafshah, Hindun, dan Ummul Hakam adalah makhluk yang paling jelek di muka bumi, mereka ini adalah musuh-musuh Allah. Siapa yang tidak memusuhi mereka, maka tidaklah sempurna imannya kepada Allah, Rasul-Nya dan imam-imam Syi’ah (Haqqul Yaqin, hal. 519 oleh Muhammad Baqir Al-Majlisi).

Menghalalkan nikah Mut’ah, bahkan menurut doktrin Syi’ah orang yang melakukan kawin mut’ah 4 kali derajatnya lebih tinggi dari Nabi Muhammad Saw. (Tafsir Minhajush Shadiqin, hal. 356, oleh Mullah Fathullah Kassani).

Menghalalkan saling tukar-menukar budak perempuan untuk disetubuhi kepada sesama temannya. Kata mereka, imam Ja’far berkata kepada temannya: “Wahai Muhammad, kumpulilah budakku ini sesuka hatimu. Jika engkau sudah tidak suka kembalikan lagi kepadaku.” (Al-Istibshar III, hal. 136, oleh Abu Ja’far Muhammad Hasan At-Thusi).

Rasulullah dan para sahabat akan dibangkitkan sebelum hari kiamat. Imam Mahdi sebelum hari kiamat akan datang dan dia membongkar kuburan Abu Bakar dan Umar yang ada didekat kuburan Rasulullah. Setelah dihidupkan maka kedua orang ini akan disalib (Haqqul Yaqin, hal. 360, oleh Mullah Muhammad Baqir al-Majlisi).

Ketujuhbelas doktrin Syi’ah di atas, apakah bisa dianggap sebagai aqidah Islam sebagaimana dibawa oleh Rasulullah Saw. dan dipegang teguh oleh para Sahabat serta kaum Muslimin yang hidup sejak zaman Tabi’in hingga sekarang? Adakah orang masih percaya bahwa Syi’ah itu bagian dari umat Islam? Menurut Imam Malik dan Imam Ahmad, barangsiapa yang tidak MENGKAFIRKAN aqidah Syi’ah ini, maka dia termasuk Kafir.

Semua kitab tersebut diatas adalah kitab-kitab induk atau rujukan pokok kaum Syi’ah yang posisinya seperti halnya kitab-kitab hadits Imam Bukhari, Muslim, Ahmad bin Hambal, Nasa’i, Tirmidzi, Abu Daud, dan Ibnu Majah bagi kaum Muslimin. Oleh karena itu, upaya-upaya Syi’ah untuk menanamkan kesan bahwa Syi’ah adalah bagian dari kaum Muslimin, hanya berbeda dalam beberapa hal yang tidak prinsip, adalah dusta dan harus ditolak tegas !!!.

Sumber: Risalah Mujahidin, edisi 9, th 1 Jumadil Ula 1428 / Juni 2007

Minggu, 05 April 2015

Siapakah Pemberontak Houthi ?



Houthi atau Hutsi adalah kelompok pemberontak yang berpaham Syiah Itsna Asyariyah atau Syiah 12 imam. Sama seperti Syiah di Indonesia dan induknya Iran. Kelompok ini didirikan oleh Husein bin Badruddin al-Houthi di wilayah utara Yaman, tepatnya di wilayah Sha’dah. Awalnya mereka berpaham Syiah Zaidiyah, kemudian menjalin hubungan dengan Hizbullah Libanon, mereka pun berubah menjadi Syiah 12 imam yang ekstrim.

Ideologi Pemberontak Houthi

Sama sepertinya Syiah di Indonesia, Iran, Libanon, Irak, Bahrain, dan mayoritas Syiah yang ada di dunia, pemberontak Houthi pun berideologi Syiah Itsna Asyariyah atau Syiah 12 Imam. Di antara ideologi gerakan ekstrim ini adalah:

  • Ideologi imamah, yaitu bentuk ideologi yang berkeyakinan bahwa kepemimpinan tidak sah kecuali dari keturunan Ali bin Abi Thalib.
  • Membangkang kepada pemerintah dan menyiapkan diri untuk berhadapan dengan pemerintah.
  • Memprovokasi dan membangkitkan semangat pengikutnya untuk memerangi Ahlussunnah. Karena Ahlussunnah meridhai selain Ali jadi khalifah, yaitu Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiallahu ‘anhum ajma’in.
  • Memuji-muji revolusi Khomeini dan Hizbullah Libanon. Mereka menjadikan keduanya sebagai teladan yang wajib dicontoh perjalannya.
  • Memusuhi tiga khalifah pertama dan para sahabat nabi secara umum. Karena dari kaca mata ideologi Houthi dan Syiah 12 Imam, tiga khalifah pertama dan para sahabat nabi adalah sumber bencana pada umat ini. Badruddin al-Houthi mengatakan, “Saya pribadi meyakini kekafiran mereka (para sahabat pen.). Mereka (para sahabat) berada di jalan yang berbeda dengan Rasulullah ﷺ.”
  • Mereka mengajarkan mencela dan melaknat istri-istri Rasulullah ﷺ dan para sahabat beliau.
Husein al-Houthi mengatakan, “Seluruh kejelekan yang ada pada umat ini.., setiap kezaliman yang terjadi pada umat ini… dan segala bentuk penderitaan yang dirasakan umat ini… adalah tanggung jawab Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Khususnya Umar, dialah sutradaranya”.

Ia juga berkata tentang baiatnya para sahabat kepada Abu Bakar setelah Rasulullah ﷺ wafat: “Dampak kejelekan baiat itu masih terasa hingga sekarang”.

Pendiri gerakan separatis ini juga mengatakan, “Permasalahan Abu Bakar dan Umar adalah permasalahan besar. Merekalah dalang semua (keburukan) yang didapat umat ini”.

Karena itu, di Iran mereka melakukan revolusi. Di Bahrain melakukan pemberontakan. Di Libanon mereka menguasai kebijakan negara dengan militer non pemerintah yakni grup Hizbullah. Di Yaman mereka memberontak. Di Indonesia? Mereka pun sama. Mereka adalah Syiah 12 Imam.

  • Secara khusus mereka sangat membenci Umar. Seorang sahabat yang agung yang memadamkan api majusi dengan menaklukkan imperium Persia.
Husein al-Houthi mengatakan, “Muawiyah adalah buah di antara kejelekan Umar. Dan tidak hanya Muawiyah saja racun dari kejelekan Umar bin al-Khattab, Abu Bakar juga merupakan hasil dari kejelekannya. Demikian juga dengan Utsman, ia juga hasil kejelekan Umar”.

Bukti Eratnya Hubungan Houthi dengan Negara Syiah Lainnya
  • Husein bin Badruddin al-Houthi sangat terpengaruh dengan perjalanan hidup Khomaini. Ia berazam sekuat tenaga mewujudkan dan menjadikan Yaman seperti Iran.
  • Salah seorang saudaranya mempelajari metode revolusi dalam sebuah seminar praktik “Ittihadu asy-Syab al-Mukmin” yang diadakan pada tahun 1986 atas sponsor Iran.
  • Setelah ayahnya (Badruddin al-Houthi) kembali dari Teheran, ibu kota Iran, mulai banyak terjadi perselisihan dengan ulama-ulama madzhab Syiah Zaidiyah.
  • Kunjungan pemberontak Houthi ke Iran dan kunjungan balik Iran ke Yaman dalam pertemuan-pertemuan rahasia terkait “Ittihadu asy-Syab al-Mukmin” sebagai persiapan revolusi di Yaman.
  • Pembelaan televisi-televisi Syiah semisal al-Alam di Iran, al-Manar milik Hizbullah Libanon, dll. terhadap pemberontak Houthi saat pemberontak ini berperang dengan pemerintah Yaman.
  • Militer Yaman menemukan senjata-senjata Iran pada pemberontak Houthi.
  • Ditemukan dokumen di rumah sakit Iran di ibu kota Shan’a. Dokumen itu menunjukkan keterlibatan Iran dalam operasi spionase (mata-mata), dukungan keuangan, dan militer untuk Houthi. Rumah sakit Iran itu pun akhirnya ditutup oleh pemerintah Yaman.
  • Adanya lambang Hizbullah Libanon di markas-markas Houthi.
  • Sejak keberhasilan revolusi berdarah di Iran, Khomaini memang bertekad mengadakan revolusi serupa di negara-negara Arab.
  • Terdapat pejuang-pejuang Syiah Irak di baraisan pemberontak Houthi.
  • Orang-orang Syiah baik di Iran maupun yang lain, marah besar atas serangan terhadap pemberontak Houthi.
Bahaya dan Ancaman Gerakan Houthi
  • Pemikiran yang paling berbahaya dari kelompok pemberontak ini adalah keyakinan bahwa Imam Mahdi (versi Syiah) akan datang ke dunia. Oleh karena itu, perlu dilakukan persiapan tanah tempat kedatangannya untuk kemudian “membebaskan” dua tanah haram, Mekah dan Madinah. Kerajaan Arab Saudi harus segera dihancurkan. Kita bisa menyaksikan saat ini, Syiah berusaha mengepung kerajaan ini dengan men-Syiah-kan Irak, Libanon, dan Suriah untuk memagari Arab Saudi di bagian utara. Yaman di bagian selatan. Usaha untuk menguasai Mesir di sebelah barat. Dan Iran sendiri di sebelah Timur.
  • Dalam buku Ashru azh-Zhahir yang ditulis oleh seorang Syiah, Ali Kurani al-Amili, ditegaskan bahwa banyak terdapat hadits dari ahlul bait tentang revolusi Islam di Yaman.Yaman adalah tanah yang disiapkan untuk kedatangan Mahdi. Di dalam kitab tersebut disebutkan bahwa pimpinan revolusi bernama “al-Yamani” seorang Yaman yang bernama Hasan atau Husein dari keturunan Zaid bin Ali. Al-Yamani ini keluar dari daerah yang disebut Kur’ah. Sebuah desa di daerah Khaulan dekat Sha’dah.
Dialog Buntu, Operasi Militer Ditempuh

Bukan rahasia lagi, bahwa grup-grup ekstrim Syiah di dunia Arab memiliki hubungan erat dengan Iran. Negara para mullah ini seolah-olah menjadi ayah bagi para ekstrimis Syiah di Timur Tengah. Mereka mensponsorinya dan berdiri satu barisan bersama mereka. Iran dan agen-agennya di Timur Tengah sudah tidak bisa dipercaya lagi. Mereka selalu memainkan peran sebagai penipu dimanapun mereka berada. Politik damai sudah sangat jauh dari kata manjur mengatasi kezaliman mereka. Operasi militer pun harus ditempuh.

Diam-diam, pemberontak Houthi dibantu oleh mantan presiden Yaman yang digulingkan, Ali Abdullah Shaleh, untuk merebut ibu kota Shan’a dengan kekerasan dan teror. Padahal Ali Abdullah Shaleh ini punya hutang nyawa dengan Arab Saudi. Ia diselamtkan Raja Abdullah para pemberontakan yang hendak membunuhnya saat Arab Spring beberapa tahun silam.

Setelah berhasil merebut ibu kota Shan’a, grup pemberontak yang disupport Iran ini menutup setiap kemungkinan upaya rekonsiliasi yang diupayakan oleh negara GCC (Gulf Cooperation Council: Saudi Arabia, Kuwait, the United Arab Emirates, Qatar, Bahrain, dan Oman). Presiden Yaman, Abdrabbo Mansour Hadi, akhirnya meminta negara-negara Teluk, Liga Arab, dan komunitas internasional untuk campur tangan menghadapi pemberontakan berdarah yang dilakukan oleh separatis Houthi.

Arab Saudi dan negara anggota GCC (kecuali Oman), Yordania, Mesir, Sudan, Maroko dan Pakistan bahkan termasuk Turki menjawab panggilan tersebut dengan operasi militer yang dinamai dengan Decisive Storm.

Iran dan media-medianya Syiahnya –termasuk media-media Syiah di Indonesia- mengecam keras operasi militer ini. Tidak heran rezim Iran membela kelompok teroris ini, karena sebelumnya pun mereka telah menjadi sumber utama pergolakan dan ketidak-stabilan di berbagai wilayah. Terutama di Suriah, Libanon, Irak, dan Yaman. Karena itu jangan heran mereka menyebut aksi pembebasan kemanusiaan ini dengan penjajahan dan agresi militer.

Jika Yaman menjadi sekutu Iran, tentu keamanan Mekah dan Madinah kian terancam. Mereka bisa meluncurkan rudal-rudal balistik dari pangkalan militer di Yaman, “membebaskan” dua tanah suci dan menghancurkan Arab Saudi.

Tindakan preventif atas agresi terhadap tanah suci harus segera dilakukan. Menolong masyarakat Yaman adalah sebuah kewajiban. Dan dukungan moral dan doa kita kaum muslimin, tentu mereka butuhkan.

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)

Sabtu, 04 April 2015

Api dalam Kuil Majusi di Iran ini berusia 1539 tahun! (Video) Bukti Syiah Adalah Majusi

Sebuah video yang diunggah Koepas (Komite Pembela Ahlul Bait dan Sahabat) ke Youtube mengungkap ritual penyembahan api di Iran, (Baca: Ritual agama Majusi)
Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu dulu meruntuhkan Imperium Persia agar mengeluarkan mereka dari kesyirikan penyembahan api kepada Tauhid, mengesakan dan menyembah Allah Azza wa Jalla semata.
Namun ternyata sisa-sisa dari mereka masih ada. Ritual dan simbol agama Majusi masih mereka jaga. dan agar terkesan Islami, ritual tersebut digabungkan dengan syiar-syiar Islam.
Seseorang yang masuk dalam kuil tersebut diharuskan memakai peci putih bagi laki-kali. Jika tidak bawa, pihak pelestari Kuil tersebut sudah menyediakan. Pengunjung wanita juga terlihat memakai kerudung. dan bahkan berdoa mengangkat tangan menghadap api dalam kuil tersebut.
Api yang berada dalam Ritual Majusi di negara pusat aliran sesat Syiah ini telah menyala selama 15 abad lamanya.
"Kami telah merawat dan menjaga api ini tidak padam selama 1539 tahun!" Kata penjaga kuil.
Sumber: Koepas

Senin, 22 Juli 2013

Inilah Fatwa “Gila”: Wanita Bersuami Boleh Nikah Mut’ah dengan Lelaki Lain dan Dijanjikan Pahala


Tentang nikah mut’ah (kawin kontrak yang telah dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shahih riwayat Muslim) oleh aliran sesat syiah ada fatwa yg lebih “berani” dan “gila” yaitu fatwa Shk. Mohsin Al Asfor dalam twitternya, dia bilang:

يجوز للمتزوجة ان تتمتع من غير أذن زوجها ، وفي حال كان بأذن زوجها فأن نسبة الأجر أقل ،

شرط وجوب النية انه خالصاً لوجه الله

( ٤٣٢/١٢ فتاوى )
Bagi perempuan yang bersuami boleh bermut’ah (kawin kontrak dengan lelaki lain) tanpa izin suaminya, dan jika izin dari suaminya, persentase ganjaran lebih sedikit, dengan syarat wajibnya niat bahwasanya ikhlas untuk wajah Allah. Fatawa (12/ 432)

Itulah fatwa dari SH MOHSIN AL ASFOR

Seorang Ulama (syiah) dan peneliti Islam, kepala penelitian ilmiah di Bahrain dan seorang profesor di kompleks seminari (hauzah) dan anggota asosiasi dari kelompok Ahl al-Bayt,

Bahrain

https://twitter.com/ShMohsnAlAsfor/status/338237275194400768

SH MOHSIN AL ASFOR
@ShMohsnAlAsfor
عالم وباحث اسلامي ورئيس البحوث العلمية بالبحرين واستاذ في مجمع الحوزة العلمية وعضو مشارك في مجموعة أهل البيت عليهم السلام
البحرين · al-asfoor.org

***

PELACURAN DENGAN NAMA NIKAH MUT’AH ITU MENERUSKAN AJARAN NABI PALSU MAJUSI MAZDAK

Agama syiah, dalam hal nikah mut’ah pada dasarnya adalah meneruskan kebejatan ajaran nabi palsu Majusi bernama Mazdak yang menghalalkan wanita dan harta sebagai milik bersama, ibarat rumput dan air ; siapa saja boleh mengambil, dan siapa saja boleh memakai. (lihat buku Hartono Ahmad Jaiz, NABI-NABI PALSU DAN PARA PENYESAT UMAT, Pustaka Al-Kautsar, Jakata).

Dari sini dapat difahami, agama syiah pada hakekatnya adalah keyakinan Majusi berbaju Islam.

Dan dari situlah dapat dibantah perkataan dedengkot syiah yang berkilah bahwa syiah tidak sesat karena boleh berhaji dan masuk Masjid Haram Makkah.

Bantahannya adalah : bolehnya orang syiah masuk Masjidil Haram bukan karena tidak sesat, tetapi hanya karena syiah itu covernya adalah Islam. Sebagaimana dedengkot munafiq Abdullah bin Ubay bin Salul zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam boleh masuk ke Masjid Haram (Nabawi) di Madinah bahkan shalat di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena covernya adalah Islam, walau isinya adalah kafir.

Itu bukan karena orang munafiq itu tidak sesat, bahkan sesat lagi kafir, namun covernya adalah Islam. Demikian pula syiah, sesat lagi kafir karena isinya adalah keyakinan Majusi namun covernya adalah Islam.

(nahimunkar.com)

Sabtu, 20 Juli 2013

Inilah 15 Ciri Pengikut Syi’ah di Indonesia


Indonesia tengah menjadi target Syi’ahisasi besar-besaran. Hingga kini banyak pengikutnya berada di berbagai wilayah Indonesia, terutama di Jawa Barat dan Sulawesi Selatan.

Jumlah penganut Syiah di Indonesia Ketua Dewan Syura Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) Jalaluddin Rakhmat, pernah mengatakan kisaran jumlah penganut Syiah di Indonesia , “Perkiraan tertinggi, 5 juta orang. Tapi, menurut saya, sekitar 2,5 jiwa,” kata Kang Jalal, sapaan Jalaluddin Rakhmat. Pemeluk Syiah, kata Kang Jalal melanjutkan, sebagian besar ada di Bandung, Makassar, dan Jakarta. Selain itu, ada juga kelompok Syiah di Tegal, Jepara, Pekalongan, dan Semarang; Garut; Bondowoso, Pasuruan, dan Madura.

Diperkirakan, kebanyakan dari mereka sedang melakukan taqiyah dalam rangka melindungi diri dari kelompok Sunni. Taqiyah adalah kondisi luar seseorang dengan yang ada di dalam batinnya tidaklah sama. Memang taqiyah juga dikenal di kalangan Ahlus Sunnah. Hanya saja menurut Ahlus Sunnah, taqiyah digunakan untuk menghindarkan diri dari musuh-musuh Islam alias orang kafir atau ketika perang maupun kondisi yang sangat membahayakan orang Islam.

Sementara itu menurut Syi’ah bahwa Taqiyah wajib dilakukan. Jadi taqiyah adalah salah satu prinsip agama mereka. Taqiyah dilakukan kepada orang selain Syi’ah, seperti ungkapan bahwa Al Quran Syi’ah adalah sama dengan Al Quran Ahlus Sunnah. Padahal ungkapan ini hanyalah kepura-puraan mereka. Mereka juga bertaqiyah dengan pura-pura mengakui pemerintahan Islam selain Syi’ah.

Menurut Ali Muhammad Ash Shalabi, taqiyah dalam Syiah ada empat unsur pokok ajaran ; Pertama, Menampilkan hal yang berbeda dari apa yang ada dalam hatinya. Kedua, taqiyah digunakan dalam berinteraksi dengan lawan-lawan Syiah. Ketiga, taqiyah berhubungan dengan perkara agama atau keyakinan yang dianut lawan-lawan. Keempat, digunakan di saat berada dalam kondisi mencemaskan

Menurut Syaikh Mamduh Farhan Al-Buhairi di Majalah Islam Internasional Qiblati, ciri-ciri pengikut Syi’ah sangat mudah dikenali, kita dapat memperhatikan sejumlah cirri-ciri berikut:

1. Mengenakan songkok hitam dengan bentuk tertentu. Tidak seperti songkok yang dikenal umumnya masyarakat Indonesia, songkok mereka seperti songkok orang Arab hanya saja warnanya hitam.

2. Tidak shalat jum’at. Meskipun shalat jumat bersama jamaah, tetapi dia langsung berdiri setelah imam mengucapkan salam. Orang-orang akan mengira dia mengerjakan shalat sunnah, padahal dia menyempurnakan shalat Zhuhur empar raka’at, karena pengikut Syi’ah tidak meyakini keabsahan shalat Jum’at kecuali bersama Imam yang ma’shum atau wakilnya.

3. Pengikut Syi’ah juga tidak akan mengakhiri shalatnya dengan mengucapkan salam yang dikenal kaum Muslimin, tetapi dengan memukul kedua pahanya beberapa kali.

4. Pengikut Syi’ah jarang shalat jama’ah karena mereka tidak mengakui shalat lima waktu, tapi yang mereka yakini hanya tiga waktu saja.

5. Mayoritas pengikut Syi’ah selalu membawa At-Turbah Al-Husainiyah yaitu batu/tanah (dari Karbala – redaksi) yang digunakan menempatkan kening ketika sujud bila mereka shalat tidak di dekat orang lain.

6. Jika Anda perhatikan caranya berwudhu maka Anda akan dapati bahwa wudhunya sangat aneh, tidak seperti yang dikenal kaum Muslimin.

7. Anda tidak akan mendapatkan penganut Syi’ah hadir dalam kajian dan ceramah Ahlus Sunnah.
8. Anda juga akan melihat penganut Syi’ah banyak-banyak mengingat Ahlul Bait; Ali, Fathimah, Hasan dan Husain radhiyallahu anhum.

9. Mereka juga tidak akan menunjukkan penghormatan kepada Abu Bakar, Umar, Utsman, mayoritas sahabat dan Ummahatul Mukminin radhiyallahu anhum.

10. Pada bulan Ramadhan penganut Syi’ah tidak langsung berbuka puasa setelah Adzan maghrib; dalam hal ini Syi’ah berkeyakinan seperti Yahudi yaitu berbuka puasa jika bintang-bintang sudah nampak di langit, dengan kata lain mereka berbuka bila benar-benar sudah masuk waktu malam. (mereka juga tidak shalat tarwih bersama kaum Muslimin, karena menganggapnya sebagai bid’ah)

11. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk menanam dan menimbulkan fitnah antara jamaah salaf dengan jamaah lain, sementara itu mereka mengklaim tidak ada perselisihan antara mereka dengan jamaah lain selain salaf. Ini tentu tidak benar.

12. Anda tidak akan mendapati seorang penganut Syi’ah memegang dan membaca Al-Qur’an kecuali jarang sekali, itu pun sebagai bentuk taqiyyah (kamuflase), karena Al-Qur’an yang benar menurut mereka yaitu al-Qur’an yang berada di tangan al-Mahdi yang ditunggu kedatangannya.
13. Orang Syi’ah tidak berpuasa pada hari Asyura, dia hanya menampilkan kesedihan di hari tersebut.
14. Mereka juga berusaha keras mempengaruhi kaum wanita khususnya para mahasiswi di perguruan tinggi atau di perkampungan sebagai langkah awal untuk memenuhi keinginannya melakukan mut’ah dengan para wanita tersebut bila nantinya mereka menerima agama Syi’ah. Oleh sebab itu Anda akan dapati;
15. Orang-orang Syi’ah getol mendakwahi orang-orang tua yang memiliki anak putri, dengan harapan anak putrinya juga ikut menganut Syi’ah sehingga dengan leluasa dia bisa melakukan zina mut’ah dengan wanita tersebut baik dengan sepengetahuan ayahnya ataupun tidak. Pada hakikatnya ketika ada seorang yang ayah yang menerima agama Syi’ah, maka para pengikut Syi’ah yang lain otomatis telah mendapatkan anak gadisnya untuk dimut’ah. Tentunya setelah mereka berhasil meyakinkan bolehnya mut’ah. Semua kemudahan, kelebihan, dan kesenangan terhadap syahwat ini ada dalam diri para pemuda, sehingga dengan mudah para pengikut Syi’ah menjerat mereka bergabung dengan agama Syi’ah.

Ciri-ciri mereka sangat banyak. Selain yang kami sebutkan di atas masih banyak cirri-ciri lainnya, sehingga tidak mungkin bagi kita untuk menjelaskan semuanya di sini. Namun cara yang paling praktis ialah dengan memperhatikan raut wajah. Wajah mereka merah padam jika Anda mencela Khomeini dan Sistani, tapi bila Anda menghujat Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah dan Hafshah, atau sahabat-sahabat lainnya radhiyallahu anhum tidak ada sedikitpun tanda-tanda kegundahan di wajahnya.

Akhirnya, dengan hati yang terang Ahlus Sunnah dapat mengenali pengikut Syi’ah dari wajah hitam mereka karena tidak memiliki keberkahan, jika Anda perhatikan wajah mereka maka Anda akan membuktikan kebenaran penilaian ini, dan inilah hukuman bagi siapa saja yang mencela dan menyepelekan para sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan para ibunda kaum Musliminradhiyallahu anhunn yang dijanjikan surga oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita memohon hidayah kepada Allah untuk kita dan mereka semua.

Wallahu a’lam.

Jumat, 19 Juli 2013

Ulama Syiah: Merokok Di Bulan Ramadhan Tidak Membatalkan Puasa


Beirut, Al-Ra’yu Al-‘Aam-Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah menegaskan bahwa merokok di bulan ramadhan tidak membatalkan puasa, meskipun dia mengharamkan merokok karena dua sebab, pertama karena berbahaya untuk badan, kedua, perbuatan itu mencederai kemuliaan bulan ramadhan, dimana kebanyakan kaum Muslimin menganggap itu membatalkan puasa.

“Al-Ra’yu Al-‘Aam” (ALRAI Newspaper) Saya bertanya kepada Fadhlullah: Dikatakan bahwa anda tidak menganggap merokok termasuk pembatal puasa di bulan ramadhan, ia menjawab: Saya mengharamkan merokok di sepanjang tahun, siang dan malamnya, karena membahayakan badan dan manusia, juga menyebabkan kehancuran, pendapat itu kami ambil dari firman Allah ta’ala, “Yas’aluunaka ‘anil khamri wal maisir, qul fiihima itsmun kabirun wa manafi’u linnas, wa istmuhuma akbaru min naf’ihima” (Mereka bertanya kepadamu hai Muhammad tentang khamr dan judi, katakanlah, pada keduanya terdapat dosa yang besar dan juga manfaat untuk manusia namun dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya), dan yang dimaksud dengan dosa adalah bahaya yang menghilangkan kebaikan sebagaimana yang dikatakan oleh ahli bahasa, maka setiap yang bahayanya lebih besar itu haram.

Akan tetapi saya tidak berpandangan bahwa asap itu membatalkan puasa di bulan Ramadhan, baik itu asap merokok, asap mobil, asap masakan ataupun yang semisal dengan itu. karena yang membatalkan puasa itu adalah berupa makanan atau minuman, atau yang semisal dengan itu. dan merokok tidak termasuk dalam kelompok itu, akan tetapi dalam waktu yang bersamaan saya mengharamkan merokok di bulan Ramadhan berpatokan di atas dua landasan, pertama, ia pada sendirinya sudah haram seperti ghibah dan adu domba, kedua karena terdapat pengkonotasian buruk terhadap suasana bulan Ramadhan, karena banyak kaum Muslimin yang menganggapnya pembatal puasa, walaupun tidak termasuk pembatal puasa. Sebagian orang mengatakan bahwa kalau memang haram mengapa tidak menjadi pembatal puasa? Padahal saya katakan, ghibah itu haram akan tetapi tidak termasuk pembatal puasa, dan tidak semua yang haram itu merupakan pembatal puasa, oleh karenanya kami mengharamkan merokok di bulan Ramadhan, dengan melihat bahwa itu sebuah perbuatan yang berbahaya dan kedua, itu merusak kehormatan bulan Ramadhan dalam pandanganumum.
(Al-Ra’yu Al-‘Aam): kalau begitu merokok di bulan Ramadhan tidak membatalkan puasa?

(Fadhlullah): Ia, merokok di bulan Ramadhan tidak membatalkan puasa.

berikut Copian scan beritanya:

Berikut fatwa yang benar mengenai hukum merokok pada saat puasa, apakah membatalkan puasa atau tidak;

Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah Ta’ala pernah ditanyakan :

Sebagian orang yang berpuasa yang gemar merokok meyakini bahwa mengisap rokok di bulan Ramadhan bukanlah pembatal puasa karena rokok bukan termasuk makan dan minum. Bagaimana pendapat Syaikh yang mulia tentang masalah ini?

Beliau rahimahullah menjawab :

Menurutku, ini adalah pernyataan yang tidak ada usulnya sama sekali. Bahkan sebenarnya rokok termasuk minum (syariba). (Dalam bahasa Arab) mengisap rokok disebut syariba ad dukhon. Jadi mengisap rokok disebut dengan minum (syariba).

Kemudian juga, asap rokok –tanpa diragukan lagi- masuk hingga dalam perut atau dalam tubuh. Dan segala sesuatu yang masuk dalam perut dan dalam tubuh termasuk pembatal puasa, baik yang masuk adalah sesuatu yang bermanfaat atau yang mendatangkan bahaya. Misalnya seseorang menelan manik-manik, besi atau selainnya (dengan sengaja), maka puasanya batal. Oleh karena itu, tidak disyaratkan sebagai pembatal puasa adalah memakan atau meminum sesuatu yang bermanfaat. Segala sesuatu yang masuk ke dalam tubuh dianggap sebagai makanan dan minuman. (Sumber: http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2674-saatnya-meninggalkan-rokok-di-bulan-ramadhan.html)

(Muh. Istiqamah/lppimakassar.com)

Kamis, 21 Februari 2013

Islamnya Seorang Penganut Syi’ah

Putra sulung Abdushshamad Busyahri, Hamid Busyahri Abu Utsman menuturkan kepada saya salah satu kisah terunik dan paling mengesankan bagi saya. Dia berkata,

Lima puluh tahun yang lalu, ayah saya, H. Abdushshamad Busyahri adalah seorang penganut Syiah yang sangat rajin mengunjungi majlis-majlis syirik yang dengan penuh kepalsuan dan kepura-puraan yang mereka beri nama al-Husainiyyah. Sebuah penisbatan kepada al-Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma, padahal beliau sendiri tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan majelis ini maupun orang-orang yang menghadirinya sampai hari kiamat kelak. Ayah adalah seorang laki-laki yang multazim (taat, konsisten) dan dermawan. Orang-orang fakir saban hari mendatangi kantornya. Meskipun tidak bisa baca-tulis, beliau memiliki perhatian besar terhadap majelis-majelis zikir dan kajian-kajian yang disampaikan oleh para ulama Syiah yang datang dari Najef dan Qumm.

Sebagaimana penganut syiah lainnya, sejak kecil ayah telah melahap dongeng dan kedustaan para sayid Rafidhah (setiap orang yang mengklaim dirinya bernasab kepada keturunan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam disebut sayyid, dan mayoritas orang yang mereka klaim sebagai sayyid, tidak benar penasaban mereka kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam) bahwa para khalifah kaum muslimin adalah musuh ahlulbait, musuh Rasulullah dan musuh Islam. Musuh terbesar Rasulullah dan keluarga beliau yang suci ialah Abu Bakar as-Shiddiq dan Umar bin al-Khattab –mudah-mudhan Allah meridhai mereka dan menjadikan mereka ridha- demikian juga dengan kedua putri mereka yang suci, istri-istri Nabi, serta ibunda kaum mukminin, meskipun orang-orang zindik tersebut tiada menyukai kenyataan ini.

Ayah menelan mentah-mentah kedustaan demi kedustaan nista ini hingga membuatnya bereaksi mencaci kedua orang yang dikasihi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut setiap kali mendengar nama mereka. Beliau pun tumbuh besar seperti orang-orang Rafidhah lainnya membeo mengulang-ulang caci-makian terhadap ash-shiddq dan al-Faruq serta sahabat mulia lainnya. Mereka mengulang-ulang apa yang mereka dengar dari para tokoh spiritual mereka, para sayid yang kafir lagi zindik, para mu’ammim (sebutan bagi para ulama Syi’ah yang kebanyakan mereka mengenakan imamah hitam membalut kepala mereka). Semoga Allah menimpakan kepada mereka hukuman yang berhak mereka terima.

Ketika usia beliau mendekat empat puluh lima tahun, ayah memutuskan untuk memperbaharui hidupnya dengan menunaikan ibadah haji ke Baitullah al-Haram. Ayah bermaksud bergabung dengan biro perjalanan haji Rafidhah, yang saat itu masih satu-satunya, karena populasi mereka saat itu tidak sampai 2% dari jumlah total penduduk.

Ayah saya Abdushshamad Busyahri tinggal di distrik al-Qaar, di Negara Kuwait. Distrik al-Qaar merupakan perkampungan orang-orang Rafidhah hingga saat ini. Beliau bekerja di kementerian Kesehatan kala itu. kebetulan, Kementerian Kesehatan memutuskan merekomendasikan beliau menjadi salah seorang tenaga tim kesehatan jemaah haji Kuwait di tanah Haram. Ayah pun bingung apakah bergabung dengan tim kesehatan Kuwait atau dengan biro haji Rafidhah.

Ayah bertukar pikiran dengan pimpinan Tim Kesehatan, Ibrahim al-Mudhaf. Beliau menyarankan untuk bergabung dengan Tim Kesehatan, karena bagaimanapun tim memiliki fasilitas dan kesiapan yang lebih lengkap dan lebih memadai. Dia juga berkata kepada ayah, “Saudaraku Abdushshamad, setelah kita sampai di tanah suci, anda dapat bergabung dengan rombongan tersebut, atau anda dapat mengunjungi siapa saja yang anda inginkan dalam kafilah itu. kita fleksibel saja, anda tidak selalu harus terikat dengan kami.” Akhirnya ayah saya Abdushshamad memutuskan bergabung dengan tim kesehatan kerajaan Kuwait. Jika telah sampai di sana ia akan bergabung dengan rombongan Syi’ah Rafidhah tersebut untuk melaksanakan manasik haji ala mereka.

Allah menakdirkan rombongan tim kesehatan tersebut menginap di Madinah an-Nabawiyah selama beberapa hari sebelum menuju ke Makkah al-Mukarramah, bertepatan dengan sampainya rombongan Rafidhah ke sana. H. Abdushshamad meminta izin dari pimpinan tim untuk bergabung dengan kafilah Rafidhah. Ketika sampai di sana mereka sedang bersiap-siap untuk menzirahi kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di Masjid an-Nabawiy dengan jalan kaki. Pimpinan rombongan, seorang sayid mu’ammim, berdiri di tengah mereka seraya berkata, “Sekarang, kita semua akan menziarahi kuburan Rasul yang paling agung….”

Dalam perjalanan, sayid berkata, “Saya akan berdoa di sisi kuburan Nabi, kalian semua ikutilah doa yang saya baca!”, Ayah saya, Abdushshamad, berkata, “Saya pun memasuki masjid an-Nabawiy dan merasa gemetar karena kewibawaan dan keagungannya. Ayah berjalan bersama anggota rombongan, sayid mu’ammim berada di depan kami. Rombongan berhenti di sisi kuburan Nabi yang mulia, kemudian berdo’a menirukan sayid.”

Ayah melanjutkan, “Saat kami berdiri di sisi kuburan Nabi, tiba-tiba seorang laki-laki tua Saudi berdiri tidak jauh dariku sehingga saya dapat mendengarkan ucapan salamnya kepada al-Mushthafa shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Salam sejahtera untuk anda wahai Rasulullah, semoga rahmat dan berkah Allah terlimpah kepada Anda. Semoga Allah memberikan imbalan kepada anda atas kebaikan dan jasa-jasa Anda kepada umat; semoga Dia melipat gandakan kebaikan bagi Anda, berbuat baik kepada Anda sebagaimana Anda telah berbuat baik kepada umat ini. Saya bersaksi bahwa anda telah menyampaikan risalah, telah menunaikan amanah, telah menasihati umat dan telah bersungguh-sungguh menyampaikan agama Allah. Ya Allah berikanlah kepada Muhammad, al-Wasilah dan karunia, bangkitkanlah beliau kelak dengan kedudukan yang terpuji, sebagaimana yang telah Engkau janjikan, sesungguhnya Engkau tidak akan mengingkari janji.’ Saya pun kagum dengan adab dan ketenangan orang tua itu dalam berdoa.”

Ayah melanjutkan ceritanya, “Yang mengejutkan ialah saat orang tua itu melihat dan menoleh ke kanan kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, saya mendengar dia berkata, ‘Salam sejahtera kepadamu wahai Abu Bakar Ash-Shiddiq, semoga rahmat dan berkah Allah tercurah kepadamu, semoga Allah meridhaimu wahai Abu Bakar, semoga Allah memberikan imbalan kebaikan atas jasa-jasa anda kepada umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.’ Saya pun terkejut mendengarkan ucapannya dan semakin heran ketika laki-laki tua itu menoleh ke arah kiri kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berkata, ‘Salam sejahtera untuk anda wahai Umar bin al-Khaththab, semoga rahmat dan berkah Allah tercurah kepada anda, semoga Allah meridhai anda wahai Umar, semoga Allah memberi imbalan atas jasa anda kepada umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam’.”

Ayah saya, Abdushshamad berkata, “Saya tidak bisa menahan diri, saya pun memegang pundak laki-laki tua itu sambil berkata kepadanya, ‘Apakah anda berziarah ke kuburan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam atau ke keburan Abu Bakar dan Umar hingga anda mengucapkan salam kepada keduanya di sini?!’

Lelaki tua itu menjawab, ‘Saudaraku, bagaimana aku tidak mengucapkan salam kepada keduanya, sementara di hadapanku ini kuburan keduanya?! Ini kuburan Abu Bakar dan ini kuburan Umar radhiyallahu anhuma’.

Dengan suara yang mulai meninggi saya menanggapi perkataannya, ‘Saya tidak pernah tahu bahwa kedua orang yang selalu kami caci pada pagi dan sore hari dalam majelis Husainiyyah, terbaring di sisi kuburan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam?!’.

Kami menyebut mereka berhala dan thagut, seperti yang kami terima dari para sayid dan pemuka kami. Bagaimana mungkin musuh-musuh Islam, musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya dikubur di satu tempat bersama dengan penghulu para nabi dan seluruh manusia?!

Saya berkata kepada laki-laki tua itu, ‘Apakah anda bergurau? Apa yang anda katakan ini pak tua?’

Orang-orang pun mulai mendengarkan ucapan saya karena tanpa sadar suara saya telah meninggi, sementara lelaki tua itu terheran-heran dengan penolakan keras yang saya lontarkan terhadap apa yang telah dia katakan bahwa di sini juga terdapat kuburan Abu Bakar dan kuburan Umar radhiyallahu ‘anhuma.

Berikutnya saya segera mendatangi sayid kami. Saat itu dia berdiri di tengah domba-domba yang hilang, para anggota rombongan. Saya berkata kepadanya dengan suara tinggi, ‘Sayid kami, wahai sayid kami, dengarkanlah apa yang dikatakan oleh laki-laki ini, dia berkata bahwa Abu Bakar dan Umar juga dikubur di sini.’

Sayid Mu’ammim itu pun berkata kepada saya, ‘Benar, Abdushshamad, benar, Abu Bakar as-Shiddiq dan Umar al-Faruq juga dikubur di sini.’

Saya spontan berteriak di tengah orang ramai menolak jawabannya, ‘Apa yang anda katakan ini? Ash-Shiddiq? Al-Faruq? Bukankah mereka itu berhala dan thagut, yang kalian ajarkan kepada kami, musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya?! Mengapa salah seorang digelari Shiddiq dan yang lain Faruq? Pahamkanlah saya wahai sayid kami!’

Sayapun melihat as-Sayyid memberikan isyarat dengan mata sambil berkata, ‘Abdushshamad, jangan membuat malu kita di tengah orang ramai, jika telah kembali ke penginapan, saya menjelaskan segala sesuatunya kepada Anda.’

Dengan suara yang semakin tinggi disertai orang yang semakin berkerumun saya justru membantah, ‘Tidak… tidak…. tidak…. Demi Allah, saya tidak akan meninggalkan tempat ini sampai Anda memahamkan saya sekarang juga, bagaimana berhala dan thagut dikubur di sisi Rasulullah? Bagaimana kaum Muslimin menerima situasi ini? Bagaimana Sayiduna Ali bin Abi Thalib membiarkannya? Bagaimana Ahlulbait menerima orang-orang kafir dikubur bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Bukankah Abu Bakar telah merampas hak Fathimah seperti apa yang telah kalian ajarakan kepada kami? Bukankah Umar telah mematahkan tulang rusuk Fathimah az-Zahra’ seperti yang kami hafal dari kalian? Bagaimana Ahlulbait menerima orang-orang kafir itu dikubur bersama Rasulullah?’

Sayid berkata, ‘Abdushshamad, Daulah Umawiyah, merekalah yang tekah menguburkan mereka di tempat ini!’

Saya pun mengatakan, ‘Sayid!.....sekalipun saya ummi, tidak bisa baca tuis, tetapi Allah telah memberikan akal yang sempurna… bagaimana Daulah Umawiyah yang menguburkan mereka padahal mereka baru berkuasa setelah sayid kita, Ali?, sementara sayiduna Ali dan Abbas meninggal setelah Abu Bakar dan Umar? Anda sendiri telah mengatakan bahwa Sayyiduna Ali adalah Haidar (sang singa) dan al-Karar, dan tidak gentar menghadapi tekanan siapa pun dalam membela agama Allah?! Bagaimana mungkin beliau dan ahlulbait mengizinkan dua orang kafir ini dikubur bersandingan dengan penghulu para nabi?!’

Orang-orang pun berhamburan ke arah kami, sayid tersebut melarikan diri diiringi domba-dombanya yang tersesat meninggalkan area kuburan. Dengan suara lantang saya berteriak, ‘Hai orang-orang ramai pahamkanlah kepada saya, apakah saya ini sedang bermimpi atau apa?!’ orang-orang itu pun berusaha menenangkan saya, mereka berkata, ‘Berdzikirlah, ingatlah kepada Allah wahai Syaikh…. Berdzikirlah mengingat Allah!’

Sejenak kemudian seorang Masyayikh di al-Haram menghampiri dan memegang saya sambil berkata, ‘Ada apa dengan anda? Anda berteriak-teriak di sisi kuburan Nabi, ini tidak boleh…. Allah memerintahkan kita untuk merendahkan suara kita jika berada di dekat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melalui firman-Nya,


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لا تَشْعُرُونَ (٢)إِنَّ الَّذِينَ يَغُضُّونَ أَصْوَاتَهُمْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ أُولَئِكَ الَّذِينَ امْتَحَنَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَى لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ (٣)


“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari. Sesungguhnya orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka Itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Hujurat: 2-3)’.”

Ayahku, H. Abdushshamad melanjutkan ceritanya,

Ayah tidak menguasai diri, meratap dan menangis. Kemudian Syekh tersebut kembali berkata, ‘Ada apa dengan Anda, saudaraku? Apa yang telah terjadi?’

Ayah menjawab, ‘Anda mengatakan bahwa Allah memerintahkan kita untuk merendahkan suara ketika berada di dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam supaya kita tidak menyakiti beliau, bahwa Allah menguji kita melalui perintah ini… sementara saya, sejak kecil sampai saat ini tidak berhenti mencaci sahabat-sahabat beliau, tidak pernah berhenti mencaci istri-istri beliau! Jika dengan meninggikan suara saja telah menghapuskan amal-amal dan menyia-nyiakannya, seperti dalam ayat tersebut, bagaimana halnya dengan orang yang mencela sahabat-sahabat dan istri-istri Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam sepenjang hayatnya?’

Maka berkatalah Syeikh tersebut, ‘Aku berlindung kepada Allah… Anda mencaci sahabat-sahabat beliau, dan istri-istri beliau, ummahatul mukminin? Apakah anda seorang Rafidhah?!’

Ayah menjawab, ‘Betul, saya seorang penganut Rafidhah, saya adalah sampah… saya…!!! Sekarang saya tahu bahwa saya telah tersesat! Saya telah disesatkan, saya betul-betul telah tertipu. Demi Allah! Demi Allah! Saya tidak pernah tahu bahwa Abu Bakar dan Umar dikuburkan di sisi Nabi di tempat yang sama. Tuan Syeikh jelaskanlah kepada saya, apakah Allah telah menipu Nabi-Nya? Apakah Allah mengkhianati Nabi-Nya? Apakah Allah tidak memuliakan nabi-Nya di kuburnya?!! Bagaimana Allah membiarkan orang-orang kafir dan musuh-musuh-Nya dan musuh Rasul-Nya dikuburkan bersisian dengan pusara Nabi?! Mengapa?! Mengapa Sayyiduna Ali bin Abi Thalib dan ahlulbait tidak mampu melarang penguburan keduanya di sisi beliau? Bagaimana Allah membiarkan orang-orang kafir dikuburkan bersama Sayiduna Muhammad, di tempat yang paling diagungkan di permukaan bumi, di Raudhah yang mulia, hingga hari kiamat?! Mengapa?! Berilah saya jawaban!

Betulkah mereka yang telah mengajari kami mencaci dua orang laki-laki ini orang-orang muslim atau para penjahat?!

Demi Allah sekarang saya mengerti, hanya dua kemungkinannya: bisa jadi Allah teledor menyia-nyiakan hak Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, wal ‘iyadzu billah, atau sayyid-sayyid kami dan mu’ammim kami yang mengkhianati Allah dan Rasul-Nya!!!’

Syekh tersebut berkata kepada Ayah, ‘Saudaraku Abdushshamad, Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar Al-Faruq bukan hanya dikuburkan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di satu lokasi, mereka bahkan adalah sanak keluarga beliau: putri-putri mereka, Aisyah dan Hafshah radhiyallahu anhuma merupakan istri-istri beliau, ibunda kaum Mukminin berdasarkan nash al-Qur’an.’

Ayah berkata, ‘Ya Allah, laknatlah sayid-sayid kami! Ya Allah laknatlah para mu’ammim kami! Ya Allah, laknatlah sayid-sayid kami! Ya Allah, laknatlah para mu’ammim kami! Jika benar yang mereka katakan berarti Allah telah menikahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dengan wanita-wanita kafir dan keji, kemudian menguburkan beliau bersama ayah-ayah mereka yang kafir?! Bagaimana akal sehat bisa membenarkan ucapan ini?! Saya pun menangis tersedu-sedan.’ Syekh tersebut meraih dan merengkuh ayah dan berkata, ‘Alhamdulillah, Allah telah menghilangkan selaput yang menutup kedua bola mata anda. Marilah saya ajarkan kepada anda berwudhu dan shalat seperti yang diamalkan Rasulullah…’

Laki-laki itu pun menuntun saya keluar dari tengah kerumunan manusia, lalu kami menuju ke tempat khusus yang diperuntukkan untuk air zam-zam. Dia berkata, ‘Berwudhulah bersama saya seperti ini…’
Ayah pun berwudhu mengikutinya. ‘Demi Allah, begitu selesai, ayah merasakan betapa lapangnya dada ini, seolah-olah baru tahu bahwa Tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah.’

Setelah selesai ayah keluar dari Masjid Nabawy asy-Sayrif, begitu sampai ke tempat tim kesehatan dan melihat pimpinan rombongan, Ibrahmi al-Mudhaf yang sunni, ayah pun merangkulnya sambil menangis haru. Ayah berkata kepadanya, ‘Ibrahim al-Mudhaf, saudaraku, mulai saat ini saya tidak akan lagi mengatakan bahwa Allah telah menghinakan Rasul dan kekasihnya shallallahu ‘alaihi wasallam. Sejak saat ini saya berlepas diri dari menghina ahlulbait, mereka lebih mulia dan lebih terhormat untuk menjadi pengecut yang takut memperjuangkan ucapan yang haq. Sejak saat ini, saya berlepas diri dari fitnah yang menodai kehormatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, istri-istri beliau yang suci, yaitu ibunda kaum Mukminin sebagaimana yang telah dijelaskan oleh nash al-Qur’an yang mulia. Mulai detik ini, saya tidak akan lagi mencela Rasulullah dan menyebut beliau gagal dan tidak mengerti mendidik sahabat-sahabat bagaimana seharusnya bersikap sepeninggal beliau. Mulai saat ini, saya berlepas diri dari perilaku orang-orang Rafidhah, meniru orang-orang Yahudi mencela Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.’

Ayah pulang ke Kuwait dengan raut wajah yang berbeda dari saat berangkat. Beliau kembali dengan keimanan yang memenuhi hatinya. Dia kembali membawa ketenangan yang melapangkan dadanya. Dia kembali dengan cahaya pemahaman yang telah membebaskan akalnya dari kegelapan kebodohan, penyimpangan dan kesesatan.

Ayah segera menemui ibu, Ummu Hamid rahimahallah dan berkata kepada beliau, ‘Istriku sesungguhnya aku telah masuk Islam yang lain dari Islam yang telah menipu kita selama bertahun-tahun… saya telah masuk Islam, yang tidak ada kedustaan di dalamnya, tidak ada penipuan, kedengkian, kesyirikan, bid’ah, cacian dan kesesatan yang nyata… Jika engkau mengikuti langkahku, engkau tetaplah istriku. Jika tidak, kembalilah kepada keluargamu’, ibu pun berkata, ‘Demi Allah, aku tidak pernah mendapatkan pada dirimu selain cinta kepada kebaikan, aku tidak memiliki prasangka selain bahwa Allah telah memberikan taufik kepadamu, kepada suatu kebaikan yang besar. Aku akan selalu bersamamu; sekarang aku adalah muslimah sunni yang mengesakan Allah rabbul ‘alamin, aku berlindung kepada Allah dari perbuatan mempersekutukan-Nya apa dan siapa pun’

Waktu pun berlalu berbilang tahun. Ibu, Ummu Hamid, melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Umar oleh ayah (orang-orang Syiah sangat membenci sahabat-sahabat, khususnya Abu Bakar, Umar dan Utsman. Dengan memberikan salah satu nama tersebut kepada anak bagi mereka menjadi salah satu tanda bahwa yang bersangkutan bukan penganut Syiah). Umar putra keempat ayah setelah saya (Hamid), Mahmud dan Adil. Ayah menghadapi penentangan yang keras dari tetangga-tetangga kami yang Rafidhi begitu mengetahui bahwa beliau telah meninggalkan agama mereka. Mereka melarang anak-anak mereka bergaul dan bermain dengan kami, anak-anak ayah, melarang istri-istri mereka mengunjungi ibu. Tetapi ayah mengahadapinya dengan penuh sabar dan tidak putus berdoa kepada Allah meminta jalan keluar. Hanya berapa tahun kemudian, Allah melimpahkan rezki yang tidak disangka-sangka, ayah memboyong kami pindah dari lingkungan Rafidhah tempat tinggal kami semula, ke distrik lain. Di sanalah ayah menghembuskan nafasnya yang terakhir, berpulang ke rahmatullah, mewariskan kepada kami sebuah agama yang haq.

Hal yang mengagumkan kemudian terjadi dalam kisah ini, banyak jamaah masjid dan keluarga beliau bermimpi melihatnya dalam kondisi yang sangat baik, masing-masing mereka melihat beliau memakai baju yang sangat putih bersih, duduk-duduk di sebuah tempat duduk yang bagus, pada tempat yang mulia sambil berkata, “Alhamdulillah, Segala puji bagi Allah yang telah memberikan hidayah ini kepada kami; kita tidak akan mendapatkan petunjuk seandainya Allah tidak memberikan petunjuk kepada kita.” Demikian Abu Utsman Hamid Busyahri menutup kisah sadarnya orang tua beliau.

Ya Allah terimalah dia, al marhum biidznillah, Abdushshamad Mahmud Busyahri, dan tempatkan beliau di tengah orang-orang shalih, dan pertemukanlah dia dengan para shiddiqin dan syuhada dan mereka adalah sebaik-baik teman… dan berikanlah petunjuk kepada kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui, amin…amin ya Rabb’ al-‘Alamin.

Menutup kisah ini, saya sampaikan kepada setiap orang Rafidhah, tahukah anda semua, mengapa Abdushshamad diberi hidayah oleh Allah kepada kebenaran? Karena satu sebab yang sangat sederhana, karena dia membuka diri untuk memfungsikan akalnya. Oleh karena itu, kapankah anda semua meniru tindakan beliau? Adalah sebuah aib besar jika seorang yang ummi, tidak bisa baca-tulis seperti Abdushshamad Busyahri rahimahullah mampu memfungsikan akalnya dengan baik, sementara kalian membiarkan akal kalian dikendalikan orang lain. Sehingga mereka bisa memperlakukan kalian sesuka hati mereka.

Sumber: Majalah Islam Internasional Qiblati, Ramadhan 1433 H, Agustus 2012 M, Edisi 10 th. VII, hal 84-89.

Selasa, 19 Februari 2013

Surat Wasiat Politik Ilahiah Khomeini : Bangsa Iran Lebih Baik Daripada Generasi Salaf !! [Na'udzubillah]


Oleh : Al-Akh Aditya Riko -Hafizhahullah-

Surat Wasiat Politik Ilahiah Imam Khomeini : "Saya berani menyatakan bahwa bangsa Iran saat ini lebih baikdaripada bangsa Hijaz pada masa Rasulullah SAWW atau masyarakat Kufah pada masa Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib dan Husain bin Ali a.s."

http://indonesian.irib.ir/tokoh/-/asset_publisher/tCI5/content/surat-wasiat-politik-ilahiah-imam-khomeini

Silahkan pilih, mau ikut Khomeini atau mau ikut Al-Qur'an dan As-Sunnah :

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ


Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah (QS. 3:110)

---> Apakah Khomeini mengira ayat diatas itu turun untuk bangsa Iran yang ada saat ini ?

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ


Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. (QS. 9:100)

---> Adakah ayat yang terang benderang seperti diatas itu yang menyatakan keridhaan Allah untuk bangsa Iran saat ini ?

Dari Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu 'Anhu :

أن النبي صلى الله عليه وسلم قال خير الناس قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم ثم يجيء قوم تسبق شهادة أحدهم يمينه ويمينه شهادته

Bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Sebaik-baik manusia adalah kurunku (generasi shahabat) kemudian orang-orang yang datang setelah mereka (generasi tabi'in), kemudian orang-orang yang datang setelah mereka (tabi'ut tabi'in), kemudian akan datang suatu kaum yang persaksian salah seorang dari mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya. (HR Bukhari)

---> Apakah Khomeini dan bangsa Iran saat ini masuk ke dalam Generasi Shahabat? atau Tabi'in? atau Tabiut Tabi'in?


Jumat, 09 November 2012

8 Kecurangan Seminar Internasional Syiah di Makassar



Sebelum kami memulai bahasan ini, ada dua poin yang ingin kami tegaskan, pertama, kami tidak mengkritik UMI, tapi kami mengkritik oknum Syiah di balik Seminar Internasional Syiah ini, kedua, kami tidak menolak gagasan persatuan, tapi apalah gunanya kita bersatu kemudian kita berbeda akidah, kalau dipaksakan justru yang akan terjadi hanya perpecahan yang semakin melebar.
Kecurangan Pertama: 'Sabda' Khomeini menjadi dasar pijakan dan latar belakang diadakannya seminar ini.

Dalam brosur Seminar Internasional tersebut perkataan-perkataan Khomeini menjadi dasar pijakan dilaksanakannya Seminar Internasional ini. Kalau mengangkat tema persatuan mengapa dasar pijakannya berasal dari satu pihak? kenapa pula bukan Al-Qur'an dan Hadis Rasulullah yang dijadikan dasar pijakan? Ini fakta yang tak terbantahkan bahwa seminar internasional ini hanyalah inisiatif dari satu pihak semata.



Kecurangan Kedua: Tokoh-tokoh pembicara bukanlah tokoh rujukan dan panutan dalam Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Salah seorang pemibacara dalam seminar itu menuturkan bahwa oknum dalam suatu mazhab tidak bisa dijadikan rujukan untuk menilai mazhab itu. Yang berhak dinilai adalah ulama muktabarnya, tokoh utamanya dan yang diakui oleh pemeluk mazhab itu sendiri. Maka kami katakan, orang-orang seperti Umar Shihab, DIn Syamsuddin, Nasaruddin Umar, Muh. Ghalib bukanlah orang-orang rujukan dalam Ahlus Sunnah wal Jamaah. Perkataan mereka bukanlah patokan kebenaran. Dan selama ini memang kita mengenal orang-orang tersebutlah yang pro ke Syiah. Banyak perkataan-perkataan mereka yang membuat bingung masyarakat terutama mengenai persoalan Sunni-Syiah.

Adanya pembicara 'ulama' Sunni dari Iran yang bernama maulawi Ishak Madani membuat kami kaget, kami sebelumnya tidak tahu siapa dia, bagaimana perannya dalam Ahlus Sunnnah wal Jamaah, apalagi dia berasal dari Iran. Beliau bukanlah ulama rujukan dalam Ahlus Sunnah wal Jamaah. Sehingga tidak pantas diambil ucapannya tentang persatuan Islam yang ingin menyatukan Sunni dan Syiah.

Kenapa mereka yang diundang menjadi pembicara? bukankah masih banyak tokoh Ahlus Sunnah wal Jamaah yang bisa menjadi pembicara selain mereka?

Kecurangan Ketiga: Penuh dengan simbol-simbol Syiah

Meja panitia di pelataran gedung Auditorium Al-Jibra UMI banyak dijejali oleh buku-buku Syiah dari Rausyan Fikr dan lainnya. Buku IJABI dibagikan bersamaan dengan sertikifikat internasional.

Padahal, ada seorang penanya di akhir acara yang menanyakan, mengapa buletin LPPI "Solusi Menghadapi Gerakan Syiah" dibagikan dalam acara itu, bukankah itu kegiatan yang akan memecah belah umat?

Itu menurut sang penanya, tapi kenapa buku-buku dari pihak Syiah tidak dipertanyakan? yang justru menurut kami itulah yang akan memecah belah umat, yang dulunya bersatu padu di atas satu akidah ahlus sunnah wal jamaah, sekarang atau waktu yang akan datang, mereka akan menjadi Syiah.

Kecurangan Keempat: Umar Shihab tidak layak mewakili MUI

Tanggal 3 Januari 2012, teguran MUI Pusat kepada Umar Shihab telah keluar, dalam rapat Dewan Pimpinan MUI Pusat hari Selasa, 9 shafar 1433 H/ 3 jan 2012 mengadakan rapat rutin. Agendanya membahas masalah syiah. Hasilnya antara lain sbb :
  1. Rapat memutuskan Umar Shihab (salah satu ketua MUI, bukan ketua umum!) bersalah karena menyatakan Syiah tidak sesat dengan mengatasnamakan institusi MUI. Yang berhak memberi statement adalah K.H. Ma’ruf Amin (selaku koordinator Ketua II MUI) atau yg ditunjuk oleh Rapim DP MUI.
  2. MUI tetap konsisten dengan Keputusan Rakernas MUI tgl 7 Maret 1984 tentang faham Syiah (yang berbeda dengan ahlussunnah dan wajib diwaspadai).
Masih ada ketua MUI lainnya seperti Yunahar Ilyas, KH. Chalil Ridwan dan lain-lain. Nampaknya pengaruh Syiah dalam seminar itu sangat kuat sehingga yang diundang adalah pembicara-pembicara yang selama ini kita kenal sebagai tokoh-tokoh yang nyeleneh.

Kecurangan Kelima: LPPI tidak diundang

Jika niat mereka benar ingin bersatu dengan kita, mengapa mereka tidak mengundang LPPI? yang selama ini dikenal berseberangan dengan aliran-aliran sesat, terutama Syiah. Padahal organisasi lain diundang seperti Muhammadiyah, NU, UIN Alauddin, Unismuh, STAIN Pare-pare dan lain-lain.

Adapun kehadiran Ust. Said beserta rombongan bukanlah atas nama LPPI. Ust Said hadir sebagai utusan PW. Muhammadiyah Sulsel, dan kami beserta rekan-rekan lainnya mendaftar terlebih dahulu untuk bisa ikut dalam seminar tersebut yang dibatasi hanya berjumlah 700 orang. Yang ingin ikut dan tidak terdaftar diminta biaya sebesar Rp. 100.000,-

Bukankah ini seminar yang akan menyatukan umat Islam?

Kecurangan Keenam: Seminar tidak layak menghasilkan rekomendasi

Yang pantas mengeluarkan rekomendasi adalah konferensi atau ijtima' yang di dalamnya memiliki komisi-komisi yang membahas berbagai masalah, yang pada akhirnya dikumpulkan dan dibuatkan rekomendasi.

Seminar semacam itu hanya berhak mengumpulkan makalah para pemateri dan kemudian membukukannya, seperti yang telah dilakukan LPPI Jakarta pada tahun 1997 dalam seminar nasional sehari tentang Syiah di Aula Masjid Istiqlal.

Kecurangan Ketujuh: Kesimpulan yang tidak berimbang

Dalam sesi tanya-jawab acara tersebut ada sekitar tujuh penanya. Empat di antara mereka menolak persatuan Sunni-Syiah dan menolak untuk mengakui kebenaran Syiah. Mereka adalah Ust. H. Rahmat Abdur Rahman, ketua MUI Makassar, Dr. Yusri, Dosen Unismuh, Ust. Muh Said Abd. Shamad, Lc, PW. Muhammadiyah Sulsel dan seorang hafiz dari Universitas Muslim Indonesia sendiri.


Salah satu dari empat penanya yang kami kutipkan di sini adalah ungkapan Ust. Rahmat Abdurrahman, Lc, M.A. Dalam acara itu Ketua MUI Makassar tersebut mengatakan, “Persatuan tanpa kejujuran adalah pemanis bibir belaka, saya ulangi, persatuan tanpa kejujuran adalah pemanis bibir belaka. Al Wihdatu biduni ash-shidq faqat fil lisan. Jika Syiah ingin bersatu dan jalan bersama syaratnya adalah stop cela sahabat. Jangan cela dan maki mereka. karena kami dididik dari kecil untuk memuliakan mereka, bukan karena sosoknya, tapi karena perjuangannya membela Islam, berjuang di samping Nabi Muhammad saw. dan kami minta maaf, kami tidak bisa mengakui kebenaran Syiah, karena itu akidah kami untuk mencintai sahabat-sahabat Rasulullah saw.”,

Pembacaan rekomendasi yang sangat pro Syiah (mempersatukan Sunni-Syiah) setelah sesi tanya-jawab itu seakan-akan tidak melihat sedikitpun kepada pendapat-pendapat empat penanya tadi.

Kecurangan Kedelapan: Rekomendasi pesanan

Kalaupun memang dalam seminar Internasional itu dipaksakan menghasilkan rekomendasi hendaknya dibuat pada acara itu. Mestinya ada tim pembuat rekomendasi yang dibentuk dalam acara itu. Namun anehnya, setelah tanya-jawab itu, rekomendasi tersebut langsung dibacakan tanpa sepengetahuan peserta kapan dibuatnya?

Menurut rekan kami, seminar internasional ini lebih layak dikatakan, "Obrolan Warung Kopi Internasional" karena dari semua pemateri di ai atas, tidak satupun yang membawakan makalah. Seminar tanpa makalah adalah omong kosong belaka.

Inilah delapan fakta kecurangan Seminar Internasional Syiah yang dapat kami ungkap. (Muh. Istiqamah)


Kamis, 18 Oktober 2012

WASPADA "BUKU PUTIH MAZDHAB SYIAH" YANG SEMAKIN MENGHITAMKAN SYIAH (bag. 3)


Dalam promosi buku ini mereka menulis:

Buku yang berjudul ‘Buku Putih Mazhab Syiah Menurut Ulama Syiah Yang Muktabar: Sebuah Uraian untuk Kesepahaman Demi Kerukunan Umat Islam’ itu diterbitkan Ahlul Bait Indonesia sebagai jawaban atas berbagai tuduhan yang dinilai sebagai fitnah terhadap Syiah.

“Kita meluncurkan buku putih ini karena harapan guru-guru kita belum tercapai. Beliau mengharapkan bahwa dalam mazhab Islam, suatu hari dapat bersatu. Tokoh-tokoh muslim dari bebagai mazhab dapat duduk bersama untuk melayani secara umum dan umat muslim secara khusus,” ujar Ketua DPP Ahlul Bait Indonesia, Hasan Alaydrus dalam peluncuran buku tersebut di gedung Graha Sucofindo, Jalan Pasar Minggu Raya, Jakarta Selatan, Selasa (18/9/2012).

“Katakan teman-teman Jatim, jangan suka mengkafirkan Syiah,” tuturnya. “Hari gini masih mengkafirkan Syiah,” cetus Hasan mengutip tokoh NU, Salahudin Wahid.

Mereka juga menulis:

Aliran Islam Syiah di Indonesia berbeda dengan Syiah yang berada di India dan Pakistan1. Di Indonesia Syiah dituding saling mencaci sahabat.Demikian dikatakan, tokoh agama Syiah, Husein Shahab dalam Dialog Antar Madzab Konstruksi Relasi Syi’ah-Sunni di Indonesia, di Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) PP Muhammadiyah,Jakarta, Selasa (18/9). “Kita harus melihat perbedaan secara positif, karena perbedaan tidak mungkin bisa dihindari, ” tuturnya.

Menurutnya, cara menyelesaikan persoalan ini tidak dengan dialog tetapi dengan membaca buku. Untuk mengetahui apakah syiah mencaci sahabat, berbuat kafir tentu tidak bukan. Meski memang ada sebagian yang seperti itu.

Komentar gensyiah:

Dari uraian di atas bisa disimpulkan beberapa poin:
Buku putih hadir sebagai jawaban atas berbagai tuduhan yang dinilai sebagai fitnah terhadap Syiah.
harapan pemimpin syiah belum tercapai, mereka akan berjuang terus dengan segala upaya agar syiah berhasil dan diterima di indoneisa.
Menyebut Jatim secara khusus dan meminta agar jangan suka mengkafirkan Syiah

Mempertanyakan orang di hari gini masih mengkafirkan syiah
Menegaskan bahwa Aliran Islam Syiah di Indonesia berbeda dengan Syiah yang berada di India dan Pakistan.
Menegaskan bahwa cara menyelesaikan persoalan ini tidak dengan dialog tetapi dengan membaca buku. Untuk mengetahui apakah syiah mencaci sahabat, berbuat kafir atau tidak!

Jawaban singkat:

Buku putih ini bukan menjawab tuduhan malah membenarkan tuduhan. Kemudian apa yang mereka anggap sebagai tuduhan dan fitnah, sebenarnya itu adalah fakta.

Sepak terjang mereka wajib dipantau dan diawasi sebab syiah termasuk aliran sesat. Lebih-lebih di jatim sudah ada peraturan Gubernur nomor 55 tahun 2012 tentang bembinaan kegiatan keagamaan dan pengawasan aliran sesat.

Baca: http://www.gensyiah.com/syiah-resmi-dilarang-di-seluruh-wilayah-jawa-timur.html
Merasaberat dengan para pejuang Jatim yang mengungkap kesesatan syiah, mereka melontarkan issu”mengkafirkansyiah” sementara mereka tidak mengungkapkan keberatannya atas pengkafiran syiah yang sharih (nyata) terhadap para sahabat Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- dan istri nabi -shallahu alaihi wa salam-.aneh,tapi itulah syiah!

Asal tahu saja, hari gini justru patut melarang aliran sesat syiah di Indonesia yang sunni ini, sebab kejahatan dan kebengisan serta kelicikan dan pengkhianatan syiah telah dipertontonkan dengan sempurna di Iran, Irak dan Suria!

Mengatakan syiah di indonesia tidak sama dengan yang di India dan Pakistan saja tanpa menyebut Iran, Irak dan Libanon adalah aneh. Karena yang ada di Indonesia itu justru syiah Iran. Kemudian tidak menyebutkan apa bedanya antara syiah Indonesia dan India dan Pakistan semakin membesarkan kecurigaan.

Usulan agar Cara penyeselesaiannya adalah dengan membaca buku untuk membuktikan apa benar syiah mengkafirkan sahabat atau melakukan kekufuran, sangat bagus dan proporsional. Apalagi di buku putih telah disebut “Menurut ulama Muktabar”.
Jawaban detil untuk dua poin terakhir:

Pertama: syiah Indonesia adalah imamiyyah itsnai asyriyyah, mengkultuskan 14 imam ditambah Rasulullah -Shallahu alaihi wasalam- dan Fathimah, sehingga ada 14 manusia suci yang mereka kultuskan dan ucapannya dianggap hadits. Perhatikan kover buku:


Bandingkan dengan syiah luar negri /iran:


Ini semua masih dalam bentuk tulisan, kemudian berikut ini dengan gambar yang palsu:


Apa artinya gambar ini? Diantara artinya: mereka menolak khalifah abu bakar, khalifah Umar, dan Khalifah Usman. Apalagi Bani Umayya. Mereka mengingkari, membenci, meyakini kezhaliman mereka, melaknat dan mengkafirkan mereka!!!

Kedua: syiah luar negri adalah umat yang ahli mencaci maki, maka demikian pula di Indonesia ahli mencaci maki meski beda kelas, silahkan baca:

bukti ikut ajaran Khumaini

didalam buku putih madzhab Syiah halaman 94 dikatakan bahwa hadits tsaqalain adalah hadits yang paling shahih dan paling tersebar luas dikalangan muslimin.Ternyata ini kopi paste dari wasiat Khumaini yang ditulis tahun 1983 dan dipublikasikan tahun 1989 setelah khumaini meninggal. Bahkan yang ajaib sampai kesalahan khumainipun di kopi paste yaitu saat menyebut bahwa hadits tersebut diabadikan oleh enam kitab shahih (al-Kutubal-Sittah)!!!!

Baca masalah hadits tsaqalain di http://www.gensyiah.com/hadits-tsaqalain.html

Keempat: kitab rujukan buku putih madzhab syiah Indonesia. Dihalaman 22 mereka berkata sebagai berikut: kitab standar hadis syiah: al-Kafi(16.099hadits),man Layakhdhuruhu al-faqih (9.044Hadits), al-Tadzhib (461hadits) dan al-Istibshar (5511 hadits)

Kelima: buku-buku yang dicetak di Indonesia banyak terjemahan dari syiah luar.

Keenam: kader-kader syiah Indonesia di sekolahkan ke iran.

Ketujuh: di luar negri ada acara ratapan asyura di Indonesia juga ada

Kedelapan: di luar ada mut’ah, di Indonesia juga ada.

Kesembilan: syiah Bangil Indonesia sama dengan luar negeri mengimani rukun Islam 5, dan yang paling tinggi adalah berwilayah kepada ahlulbait ( buku 560 hadits halaman 212-213)


Kesepuluh: syiah indonesia sama bertaqiyyah seperti syiah luar negeri.

Kesebelas: syiah indonesia sama dengan syiah luar negri mengimani imam mahdi al-maz’um dengan segala “rencana jahatnya” pada saat kemunculannya!


Bersambung!
Nantikan bagian 4. Bukti yang terbantahkan