Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh - Selamat Datang Di SMA IBNU HAJAR BOARDING SCHOOL - PUTRA - Jl. Bungur II, Harjamukti Cimanggis Depok No.Hp 0896 7811 5102

http://ibnuhajarpersada.com/

http://ibnuhajarpersada.com/

http://ibnuhajarpersada.com/


http://ibnuhajarpersada.com/

http://ibnuhajarpersada.com/

http://ibnuhajarpersada.com/

http://ibnuhajarpersada.com/




https://ihbs.or.id/

Tampilkan postingan dengan label Akhlaq. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akhlaq. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Agustus 2016

Tidak Ada Orang yang Tidak Memiliki Kompetensi


Dari kisah nyata seorang guru.
=======================

Di suatu sekolah dasar, ada seorang guru yang selalu tulus mengajar dan selalu berusaha dengan  sungguh-sungguh membuat suasana kelas yang baik untuk murid-muridnya.

Ketika guru itu menjadi wali kelas 5, seorang anak–salah satu murid di kelasnya– selalu berpakaian kotor dan acak-acakan. Anak ini malas, sering terlambat dan selalu mengantuk di kelas. Ketika semua murid yang lain mengacungkan tangan untuk menjawab kuis atau mengeluarkan pendapat, anak ini tak pernah sekalipun mengacungkan tangannya.

Guru itu mencoba berusaha, tapi ternyata tak pernah bisa menyukai anak ini. Dan entah sejak kapan, guru itu pun menjadi benci dan antipati terhadap anak ini. Di raport tengah semester, guru itu pun menulis apa adanya mengenai keburukan anak ini.

Suatu hari, tanpa disengaja, guru itu melihat catatan raport anak ini pada saat kelas 1. Di sana tertulis: “Ceria, menyukai teman-temannya, ramah, bisa mengikuti pelajaran dengan baik, masa depannya penuh harapan,”

“..Ini pasti salah, ini pasti catatan raport anak lain….,” pikir guru itu sambil melanjutkan melihat catatan berikutnya raport anak ini.

Di catatan raport kelas 2 tertulis, “Kadang-kadang terlambat karena harus merawat ibunya yang sakit-sakitan,”

Di kelas 3 semester awal, “Sakit ibunya nampaknya semakin parah, mungkin terlalu letih merawat, jadi sering mengantuk di kelas,”

Di kelas 3 semester akhir, “Ibunya meninggal, anak ini sangat sedih terpukul dan kehilangan harapan,”

Di catatan raport kelas 4 tertulis, “Ayahnya seperti kehilangan semangat hidup, kadang-kadang melakukan tindakan kekerasan kepada anak ini,”

Terhentak guru itu oleh rasa pilu yang tiba-tiba menyesakkan dada. Dan tanpa disadari diapun meneteskan air mata, dia mencap memberi label anak ini sebagai pemalas, padahal si anak tengah berjuang bertahan dari nestapa yang begitu dalam…
Terbukalah mata dan hati guru itu. Selesai jam sekolah, guru itu menyapa si anak:
“Bu guru kerja sampai sore di sekolah, bagaimana kalau kamu juga belajar mengejar ketinggalan, kalau ada yang gak ngerti nanti Ibu ajarin,”

Untuk pertama kalinya si anak memberikan senyum di wajahnya.

Sejak saat itu, si anak belajar dengan sungguh-sungguh, prepare dan review dia lakukan di bangkunya di kelasnya.

Guru itu merasakan kebahagian yang tak terkira ketika si anak untuk pertama kalinya mengacungkan tanganya di kelas. Kepercayaan diri si anak kini mulai tumbuh lagi.

Di Kelas 6, guru itu tidak menjadi wali kelas si anak.

Ketika kelulusan tiba, guru itu mendapat selembar kartu dari si anak, di sana tertulis. “Bu guru baik sekali seperti Bunda, Bu guru adalah guru terbaik yang pernah aku temui.”

Enam tahun kemudian, kembali guru itu mendapat sebuah kartu pos dari si anak. Di sana tertulis, “Besok hari kelulusan SMA, Saya sangat bahagia mendapat wali kelas seperti Bu Guru waktu kelas 5 SD. Karena Bu Guru lah, saya bisa kembali belajar dan bersyukur saya mendapat beasiswa sekarang untuk melanjutkan sekolah ke kedokteran.”

Sepuluh tahun berlalu, kembali guru itu mendapatkan sebuah kartu. Di sana tertulis, “Saya menjadi dokter yang mengerti rasa syukur dan mengerti rasa sakit. Saya mengerti rasa syukur karena bertemu dengan Ibu guru dan saya mengerti rasa sakit karena saya pernah dipukul ayah,”

Kartu pos itu diakhiri dengan kalimat, “Saya selalu ingat Ibu guru saya waktu kelas 5. Bu guru seperti dikirim Tuhan untuk menyelamatkan saya ketika saya sedang jatuh waktu itu. Saya sekarang sudah dewasa dan bersyukur bisa sampai menjadi seorang dokter. Tetapi guru terbaik saya adalah guru wali kelas ketika saya kelas 5 SD.”

Setahun kemudian, kartu pos yang datang adalah surat undangan, di sana tertulis satu baris,

“Mohon duduk di kursi Bunda di pernikahan saya,”

Guru pun tak kuasa menahan tangis haru dan bahagia

Kalau hati bapak ibu guru bergetar membaca cerita ini, boleh bapak ibu guru share ke semua orang terutama kepada guru/pendidik....

Semoga Allah Subhanahu wa ta'ala melipatgandakan rizki kita...أَمِِين.. أَمِِيْن.. أَمِِيْن.. يَا رَبَّ العَالَمِي


Sumber:
Group Alumni Pelatihan IHF
(Fathimah)

Minggu, 10 Juli 2016

KITA TAHU, TAPI SAYANG…

 


✏ Oleh: Ustadz Zainal Abidin, ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah pernah mengisahkan :
“Seorang anak perempuan meninggal karena Tho’un, kemudian ayahnya melihatnya di dalam mimpi, maka ayahnya berkata kepadanya : “Wahai anakku kabarkan kepadaku tentang akhirat!”
Anak perempuan itu menjawab :

“Kami telah melewati perkara yang sangat besar, dan sesungguhnya kita telah mengetahui, tapi kita tidak mengamalkannya. Demi Allah, sesungguhnya satu ucapan tasbih atau satu raka’at sholat yang tertulis dalam lembaran amalku lebih aku sukai daripada dunia dan seluruh isinya”..

Berkata Ibnul Qayyim :

“Anak perempuan itu telah mengatakan perkataan yang dalam maknanya (sesungguhnya kami mengetahui, tapi kita tidak mengamalkan), akan tetapi banyak diantara kita yang tidak memahami maknanya..”

🍃 Kita mengetahui, bahwa ucapan “Subhaanallaahi wa bihamdihi” sebanyak 100 kali dalam sehari akan menghapuskan dosa-dosa kita, walaupun dosa kita sebanyak buih di lautan. Akan tetapi sayang, Berapa banyak hari kita yang berlalu tanpa kita mengucapkannya sedikitpun.

🍃 Kita mengetahui, bahwa pahala dua raka’at Dhuha setara dengan pahala 360 shodaqah, akan tetapi sayang, Hari berganti hari tanpa kita melakukan sholat Dhuha.

🍃 Kita mengetahui, bahwa orang yang berpuasa sunnah karena Allah satu hari saja, akan dijauhkan wajahnya dari api neraka sejauh 70 musim atau 70 tahun perjalanan. Tapi sayang, kita tidak mau menahan lapar.

🍃 Kita mengetahui, bahwa siapa yang menjenguk orang sakit akan diikuti oleh 70 ribu malaikat yang memintakan ampun untuknya. Tapi sayang, kita belum juga menjenguk satu orang sakit pun pekan ini.

🍃 Kita mengetahui, bahwa siapa yang membantu membangun masjid karena Allah walaupun hanya sebesar sarang burung, akan dibangunkan sebuah rumah di surga. Tapi sayang, kita tidak tergerak untuk membantu pembangunan masjid
walaupun hanya dengan beberapa puluh ribu.

🍃 Kita mengetahui, bahwa siapa yang membantu janda dan anak yatimnya, pahalanya seperti berjihad di jalan Allah, atau seperti orang yang berpuasa sepanjang hari tanpa berbuka, atau orang yang sholat sepanjang malam tanpa tidur. Tapi sayang, sampai saat ini kita tidak berniat membantu seorang pun janda dan anak yatim.

🍃 Kita mengetahui, bahwa orang yang membaca satu huruf dari Al Qur’an, baginya sepuluh kebaikan dan satu kebaikan akan dilipatgandakan sepuluh kali. Tapi sayang, kita tidak pernah meluangkan waktu membaca Al-Qur’an dalam jadwal harian kita.

🍃 Kita mengetahui, bahwa haji yang mabrur, tidak ada pahala baginya kecuali surga, dan akan diampuni dosa-dosanya sehingga kembali suci seperti saat dilahirkan oleh ibunya. Tapi sayang, kita tidak bersemangat untuk melaksanakannya,
padahal kita mampu melaksanakannya.

🍃 Kita mengetahui, bahwa orang mukmin yang paling mulia adalah yang yang paling banyak sholat malam, dan bahwasanya Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallaam dan para shahabatnya tidak pernah meremehkan sholat malam di tengah segala kesibukan dan jihad mereka. Tapi sayang kita terlalu meremehkan sholat malam.

🍃 Kita mengetahui, bahwa hari kiamat pasti terjadi, tanpa ada keraguan, dan pada hari itu Allah akan membangkitkan semua yang ada di dalam kubur. Tetapi sayang, kita tidak pernah mempersiapkan diri untuk hari itu.

🍃 Kita sering menyaksikan orang-orang yang meninggal
mendahului kita. tetapi sayang, kita selalu larut dengan senda gurau dan permainan dunia seakan kita mendapat jaminan
hidup selamanya dan tidak akan akan menyusul mereka.

📣 Wahai Saudaraku yang dirahmati Allah...
Semoga kita segera
mengubah keadaan kita mulai detik ini, dan mempersiapkan
datangnya hari perhitungan yang pasti akan kita hadapi..
Hari dimana kita mempertanggung jawabkan setiap perbuatan kita di dunia..

🌋 Hari ketika lisan kita dikunci, sedangkan mata, kaki, dan
tangan kita yang menjadi saksi..
Dan pada hari itu, setiap orang akan lari dari saudaranya, ibu dan bapaknya, teman-teman dan anaknya, karena pada hari itu setiap orang akan disibukkan dengan urusannya masing2.

Saya telah mengirimkan nasihat ini kepada orang yang saya cintai karena Allah, maka kirimkanlah nasihat ini kepada orang yang Anda cintai.

•═══════◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═══════•
📮 Join Channel @MuliaDenganSunnah
di Telegram :  https://goo.gl/X2h0P7
🌐 Web : www.AsySyamil.com
🌍 FB : https://goo.gl/tJdKZY
📚 WA MULIA DENGAN SUNNAH
📱 081381173870 Admin

Kamis, 05 Mei 2016

Pelajaran untuk para Orang Tua tentang Pendidikan Anak


Ada 27 Kajian yang menarik dan sangat penting bagi pertumbuhan karakter anak

Disampaikan secara apik, lugas dan jelas dari sudut pandang agama dan psikologis

Sangat dianjurkan untuk para ortu yang baru pemula mempelajari agama Islam, karena beliau cara penyampaiannya santai dan mudah dipahami..

oleh : Ustadz Abdullah Zaen, MA.
.
01 - Adil Terhadap Semua Anak (40 Menit)
https://www.youtube.com/watch?v=XacZewBekuA
.
02 - Ajarkan Quran kepada Anak (50 Menit)
https://www.youtube.com/watch?v=WT_jxv9JFGk
.
03 - Ajarkan Bahasa Arab pada Anak (50 Menit)
https://www.youtube.com/watch?v=pduBAgqkohY
.
04 - Ajarkan Hadits pada Anak (48 Menit)
https://www.youtube.com/watch?v=t_8DKZl2pb0
.
05 - Anak adalah Amanah Allah (38 Menit)
https://www.youtube.com/watch?v=Ax1PiqTTCTk
.
06 - Anak adalah Anugrah dan Ujian (40 Menit)
https://www.youtube.com/watch?v=eLt9ZcHSnKU
.
07 - Anak dan Dasar Keilmuan (58 Menit)
https://www.youtube.com/watch?v=2Z3gBXxmpl4
.
08 - Anak dan Ilmu Dunia (46 Menit)
https://www.youtube.com/watch?v=rpujiGSIkAA
.
09 - Anak dan Kejujuran (55 Menit)
https://www.youtube.com/watch?v=7zHXLjXpE78
.
10 - Anak dan Kreatifitas (46 Menit)
https://www.youtube.com/watch?v=uTExETv9ygI
.
11 - Anak dan Membaca (52 Menit)
https://www.youtube.com/watch?v=Yqhke64Qay0
.
12 - Anak dan Menjaga Rahasia (53 Menit)
https://www.youtube.com/watch?v=jggYGPmi7-w
.
13 - Anak dan Lapang Dada (50 Menit)
https://www.youtube.com/watch?v=qJTwh6OqR6Y
.
14 - Anak dan Amanah (50 Menit)
https://www.youtube.com/watch?v=seYGNXN2xkU
.
15 - Berikan Bingkisan Hadiah (50 Menit)
https://www.youtube.com/watch?v=i0dvk6ov-to
.
16 - Berikan Sambutan Hangat (43 Menit)
https://www.youtube.com/watch?v=nqy6_epHKEQ
.
17 - Bermain dan Bercanda (50 Menit)
https://www.youtube.com/watch?v=V9TWLPDQ-Qc
.
18 - Hindari Mencela Anak (56 Menit)
https://www.youtube.com/watch?v=z5myM8VF2so
.
19 - Istimewakan setiap Anak (52 Menit)
https://www.youtube.com/watch?v=w50c_i7ESQM
.
20 - Jangan sampai Setan Menyentuh Anak (44 Menit)
https://www.youtube.com/watch?v=DJm3aDoNts8
.
21 - Kecupan Kasih Sayang (46 Menit)
https://www.youtube.com/watch?v=gTL44m7NSsU
.
22 - Permainan untuk Anak (51 Menit)
https://www.youtube.com/watch?v=ZRSJ1l6rcVY
.
23 - Manfaatkan Hari Istimewa (46 Menit)
https://www.youtube.com/watch?v=JsncHBfvMF8
.
24 - Keminderan Anak (48 Menit)
https://www.youtube.com/watch?v=scASE9bj0fA
.
25 - Menjaga Perasaan Anak (48 Menit)
https://www.youtube.com/watch?v=MnP5Xi_q3G4
.
26 - Anak Tidak Percaya Diri (43 Menit)
https://www.youtube.com/watch?v=_N5-216yU6c
.
27 - Rumah adalah Sekolah (34 Menit)
https://www.youtube.com/watch?v=87PMRXT6-mk

Senin, 22 Februari 2016

PARENTING SERI II - TP 2015/2016


-------------
Download File PPSnya disini : 
http://tinyurl.com/DekadensiMoral
------------

















 -------------
UNDANGAN PENTING

Bismillah,

Kami mengundang Bapak & Ibu ortu siswa kls 10, 11, & 12 untuk menghadiri kegiatan PARENTING yg kedua di TP 2015/2016, yang insya Allah akan dilaksanaka pada:

Hari       : Ahad
Tgl         : 21 Feb. 2016
Waktu    : 09.00 s.d menjelang zhuhur
Tempat  : Ruang kelas, lantai 2
Tema     : DEKADENSI MORAL
Pemateri : Ust. Zaenal Abidin, Lc

Insya Allah, dihari dan waktu yang sama akan ada kegiatan market day yg diselenggarakan oleh siswa SMA IHBS.

Mengingat pentingnya acara tersebut, kami sangat mengharapkan kehadiran Bapak & Ibu tepat pada waktu.

Jazakumullah khairan

Sabtu, 31 Oktober 2015

NASEHAT MENDIDIK ANAK ISLAMI

Ustadz Abdullah Zaen :

Anak dan Kejujuran

Jurus Jitu Mendidik Anak

 - Bagian 1

 - Bagian 2

 

Ustadz Zainal Abidin, Lc :

1.  Tips Agar Buah Hati Menjadi Anak yang Berbakti

2. Kesalahan Dalam Mendidik Anak

 Ustaz Azhar Idrus

1.       Cara Mendidik Anak

2.      Bagaimana Mendidik Anak Dalam Suasana Dunia Akhir Zaman?

 

Ustaz KH.Zaenuddin Mz

C ARA MENDIDIK ANAK YANG BAIK

 

Ust. Murtadho Al-Hinduan

cara 1  mendidik anak versi Rasulullah 1

cara 2  mendidik anak versi Rasulullah 2

cara 3  mendidik anak versi Rasulullah 3

cara 4  mendidik anak versi Rasulullah 4

cara 5  mendidik anak versi Rasulullah 5

 

Ustadz Bendri Jaisyurrahman

T untunan Islam Dalam Mendidik Anak Lelaki

 

Ustadz Aris Munandar :

CaraMendidik Anak Perempuan Yang Baik Dalam Islam

 

Ust Abdul Hakim
P endidikan Anak Dlm Islam

 

19 Metode Mendidik Anak (Tafsir QS Luqman 13)

 

 

BUYA YAHYA

CARA CERDAS MENDIDIK ANAK AGAR PINTAR & SHOLEH

 

Ustad Budi Ashari,Lc

- 1  Mendidik Anak Dengan Cara Islam

- 2  Cara Mendidik Anak Menghafal al Qur'an

- 3  Pendidikan

 

Ust. Abu Rizal Fadhillah

Metode Rasulullah Dalam Mendidik Anak Sesuai Tahapan Usia

 

Ustadz Salim A. Fillah : Pendidikan Anak dalam Islam (Part 1) (Part 2)

 

 

Kajian Pendidikan Anak: Peran Keluarga & Sekolah - Ust. Dr. Syafiq Reza Basalamah, MA

Pendidikan Anak Usia Dini dalam Islam - Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi

 

 

 

Kajian Pendidikan Anak (Tarbiyatul Awlad) - Ustadz Muhtarom

 

 

Rabu, 15 April 2015

Wasiat - Wasiat Generasi Salaf

Oleh Abu Ihsan Al Atsari

Allah Ta`ala berfirman dalam kitab-Nya:

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga, di bawahnya banyak sungai mengalir; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar”. (QS. At-taubah : 100)

Dalam ayat di atas Allah Subhanahu wa Ta`alamemberi pujian kepada para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan. Merekalah generasi terbaik yang dipilih oleh Allah sebagai pendamping nabi-Nyadalam mengemban risalah ilahi.

Pujian Allah tersebut, sudah cukup sebagai bukti keutamaan atau kelebihan mereka. Merekalah generasi salaf yang disebut sebagai generasi Rabbani yang selalu mengikuti jejak langkah Rasulullah Shallallahu `alaihiwa sallam.

Dengan menapak tilasi jejak merekalah, generasi akhir umat ini akan bisa meraih kembali masa keemasannya. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Malik rahimahullah, Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan apa yang membuat generasi awalnya menjadi baik. Sungguh sebuah ucapan yang pantas ditulis dengan tinta emas. Jikalau umat ini mengambil generasi terbaik itu sebagai teladan dalam segala aspek kehidupan niscaya kebahagiaan akan menyongsong mereka.

Dalam kesempatan kali ini, kami akan mengupas bagaimana para salaf menyucikan jiwa mereka, yang kami nukil dari petikan kata-kata mutiara dan hikmah yang sangat berguna bagi kita.

Salaf dan Tazkiyatun Nufus

Salah satu sisi ajaran agama yang tidak boleh terlupakan adalah tazkiyatun nufus(penyucian jiwa). Allah selalu menyebutan tazkiyatun nufus bersama dengan ilmu. Allah berfirman:

”Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui”. (QS. Al-Baqarah : 151)

Artinya, ilmu itu bisa jadi bumerang bila tidak disertai dengan tazkiyatun nufus. Oleh sebab itu dapat kita temui dalam biografi ulama salaf tentang kezuhudan, keikhlasan, ketawadhu`an dan kebersihan jiwa mereka. Begitulah, mereka selalu saling mengingatkan tentang urgensi tazkiyatun nufus ini. Dari situ kita dapati ucapan-ucapan ulama salaf sangat menghunjam ke dalam hati dan penuh dengan hikmah. Hamdun bin Ahmad pernah ditanya: Mengapa ucapan-ucapan para salaf lebih bermanfaat daripada ucapan-ucapan kita? beliau menjawab: Karena mereka berbicara untuk kemuliaan Islam, keselamatan jiwa dan mencari ridha Ar-Rahman, sementara kita berbicara untuk kemuliaan diri, mengejar dunia dan mencari ridha manusia!

Salaf dan Kegigihan Dalam Menuntut Ilmu

Imam Adz-Dzahabi berkata: Ya`qub bin Ishaq Al-Harawi menceritakan dari Shalih bin Muhammad Al-Hafizh, bahwa ia mendengar Hisyam bin Ammar berkata: Saya datang menemui Imam Malik, lalu saya katakan kepadanya: “Sampaikanlah kepadaku beberapa hadits”! Beliau berkata: Bacalah! Tidak, namun tuanlah yang membacakannya kepadaku! jawabku.
Bacalah! kata Imam Malik lagi. Namun aku terus menyanggah beliau. Akhirnya ia berkata: Hai pelayan, kemarilah! Bawalah orang ini dan pukul dia lima belas kali! Lalu pelayan itu membawaku dan memukulku lima belas cambukan. Kemudian ia membawaku kembali kepada beliau. Pelayan itu berkata: Saya telah mencambuknya! Maka aku berkata kepada beliau: Mengapa tuan menzhalimi diriku? tuan telah mencambukku lima belas kali tanpa ada kesalahan yang kuperbuat? Aku tidak sudi memaafkan tuan! Apa tebusannya? tanya beliau. Tebusannya adalah tuan harus membacakan untukku sebanyak lima belas hadits! jawabku. Maka beliaupun membacakan lima belas hadits untukku. Lalu kukatakan kepada beliau: Tuan boleh memukul saya lagi, asalkan tuan menambah hadits untukku! Imam Malik hanya tertawa dan berkata: Pergilah!

Salaf dan Keikhlasan

Generasi salaf adalah generasi yang sangat menjaga aktifitas hati. Seorang lelaki pernah bertanya kepada Tamim Ad-Daari tentang shalat malam beliau. Dengan marah ia berkata: Demi Allah satu rakaat yang kukerjakan di tengah malam secara tersembunyi, lebih kusukai daripada shalat semalam suntuk kemudian pagi harinya kuceritakan kepada orang-orang! Ar-Rabi` bin Khaitsam berkata: Seluruh perbuatan yang tidak diniatkan mencari ridha Allah, maka perbuatan itu akan rusak!

Mereka tahu bahwa hanya dengan keikhlasan, manusia akan mengikuti, mendengarkan dan mencintai mereka. Imam Mujahid pernah berkata: Apabila seorang hamba menghadapkan hatinya kepada Allah, maka Allah akan menghadapkan hati manusia kepadanya. Memang diakui, menjaga amalan hati sangat berat karena diri seakan-akan tidak mendapat bagian apapun darinya.
Sahal bin Abdullah berkata: Tidak ada satu perkara yang lebih berat atas jiwa daripada niat ikhlas, karena ia (seakan-akan -red.) tidak mendapat bagian apapun darinya.
Sehingga Abu Sulaiman Ad-darani berkata: Beruntunglah bagi orang yang mengayunkan kaki selangkah, dia tidak mengharapkan kecuali mengharap ridha Allah!

Mereka juga sangat menjauhkan diri dari sifat-sifat yang dapat merusak keikhlasan, seperti gila popularitas, gila kedudukan, suka dipuji dan diangkat-angkat.
Ayyub As-Sikhtiyaani berkata: Seorang hamba tidak dikatakan berlaku jujur jika ia masih suka popularitas. Yahya bin Muadz berkata: Tidak akan beruntung orang yang memiliki sifat gila kedudukan. Abu Utsman Sa`id bin Al-Haddad berkata: Tidak ada perkara yang memalingkan seseorang dari Allah melebihi gila pujian dan gila sanjungan.
Oleh karena itulah ulama salaf sangat mewasiatkan keikhlasan niat kepada murid-muridnya. Ar-Rabi` bin Shabih menuturkan: Suatu ketika, kami hadir dalam majelis Al-Hasan Al-Bashri, kala itu beliau tengah memberi wejangan. Tiba-tiba salah seorang hadirin menangis tersedu-sedu. Al-Hasan berkata kepadanya: Demi Allah, pada Hari Kiamat Allah akan menanyakan apa tujuan anda menangis pada saat ini!

Salaf dan Taubat

Setiap Bani Adam pasti bersalah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang segera bertaubat kepada Allah. Demikianlah yang disebutkan Rasulullahdalam sebuah hadits shahih. Generasi salaf adalah orang yang terdepan dalam masalah ini!
`Aisyah berkata: Beruntunglah bagi orang yang buku catatan amalnya banyak diisi dengan istighfar. Al-Hasan Al-Bashri pernah berpesan: Perbanyaklah istighfar di rumah kalian, di depan hidangan kalian, di jalan, di pasar dan dalam majelis-majelis kalian dan dimana saja kalian berada! Karena kalian tidak tahu kapan turunnya ampunan!

Tangis Generasi Salaf

Generasi salaf adalah generasi yang memiliki hati yang amat lembut. Sehingga hati mereka mudah tergugah dan menangis karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta`ala. Terlebih tatkala membaca ayat-ayat suci Al-Qur`an.
Ketika membaca firman Allah: “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu (QS. Al-Ahzab : 33) `Aisyah menangis tersedu-sedu hingga basahlah pakaiannya”.
Demikian pula Ibnu Umar , ketika membaca ayat yang artinya: “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)”. (QS. Al-Hadid : 16) Beliau menangis hingga tiada kuasa menahan tangisnya.
Ketika beliau membaca surat Al-Muthaffifinsetelah sampai pada ayat yang artinya: “Pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam”. (QS. Al-Muthaffifiin : 5-6) Beliau menangis dan bertambah keras tangis beliau sehingga tidak mampu meneruskan bacaannya.

Salaf dan Tawadhu`

Pernah disebut-sebut tentang tawadhu` di hadapan Al-Hasan Al-Bashri, namun beliau diam saja. Ketika orang-orang mendesaknya berbicara ia berkata kepada mereka: saya lihat kalian banyak bercerita tentang tawadhu`! Mereka berkata: Apa itu tawadhu` wahai Abu Sa`id? Beliau menjawab: Yaitu setiap kali ia keluar rumah dan bertemu seorang muslim ia selalu menyangka bahwa orang itu lebih baik daripada dirinya.
Ibnul Mubarak pernah ditanya tentang sebuah masalah di hadapan Sufyan bin Uyainah, ia berkata: Kami dilarang berbicara di hadapan orang-orang yang lebih senior dari kami.
Al-Fudhail bin Iyadh pernah ditanya: Apa itu tawadhu`? Ia menjawab: Yaitu engkau tunduk kepada kebenaran!
Mutharrif bin Abdillah berkata: Tidak ada seorangpun yang memujiku kecuali diriku merasa semakin kecil.

Salaf dan Sifat Santun

Pada suatu malam yang gelap Umar bin Abdul Aziz memasuki masjid. Ia melewati seorang lelaki yang tengah tidur nyenyak. Lelaki itu terbangun dan berkata: Apakah engkau gila! Umar menjawab: Tidak. Namun para pengawal berusaha meringkus lelaki itu. Namun Umar bin Abdul Aziz mencegah mereka seraya berkata: Dia hanya bertanya: Apakah engkau gila! dan saya jawab: Tidak.
Seorang lelaki melapor kepada Wahab bin Munabbih: Sesungguhnya Fulan telah mencaci engkau! Ia menjawab: Kelihatannya setan tidak menemukan kurir selain engkau!

Salaf dan Sifat Zuhud

Yusuf bin Asbath pernah mendengar Sufyan Ats-Tsauri berkata: Aku tidak pernah melihat kezuhudan yang lebih sulit daripada kezuhudan terhadap kekuasaan. Kita banyak menemui orang-orang yang zuhud dalam masalah makanan, minuman, harta dan pakaian. Namun ketika diberikan kekuasaan kepadanya maka iapun akan mempertahankan dan berani bermusuhan demi membelanya.
Imam Ahmad pernah ditanya tentang seorang lelaki yang memiliki seribu dinar apakah termasuk zuhud? Beliau menjawab: Bisa saja, asalkan ia tidak terlalu gembira bila bertambah dan tidak terlalu bersedih jika berkurang.
Demikianlah beberapa petikan mutiara salaf yang insya Allah berguna bagi kita dalam menuju proses penyucian jiwa. Semoga Allah senantiasa memberi kita kekuatan dalam meniti jejak generasi salaf dalam setiap aspek kehidupan.

(Ditulis ulang dari Majalah As Sunnah Edisi 04/VI/1423H)


Kamis, 16 Mei 2013

Muhammad Al-Fatih dan Pendidikan Karakter


Pendidikan karakter adalah sebuah program sekolah untuk membentuk anak-anak muda secara sistematis dengan nilai-nilai yang diyakini dapat merubah prilaku mereka. Atau dapat pula diartikan sebagai penanaman sifat sopan, sehat, kritis, dan sikap-sikap sosial seperti kewarganegaraan yang dapat diterima masyarakat. (Lockwoot A.T. Charakter Education: Controversy and Consensus, 1988).

Dalam Islam, karakter identik dengan adab yang biasa disebut akhlak, orang bugis menamainya ampe-ampe atau tingkah laku, berupa kecenderungan jiwa untuk bersikap dan bertindak secara otomatis. Adab yang sesuai dengan ajaran Islam disebut akhlaqul karimah atau ampe-ampe madeceng yang hanya dapat diperoleh melalui dua jalan. Pertama, bawaan lahir sebagai karunia Allah -the gift- sebagaimana akhlak para nabi dan rasul. Dan kedua, sebagai hasil usaha pendidikan dan penempahan exercise terhadap jiwa soul. Dengan itu program pendidikan karakter yang kini sedang ditekankan oleh pemerintah pada dasarnya sejalan dengan Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai akhlaqul karimah, dan sangat sejalan dengan falsafah orang Bugis, local wisdom.

Selain sifat terpuji, pendidikan karekter pada hakikatnya menanamkan jati diri yang tangguh kepada peserta didik, sehingga ketika baranjak dewasa mereka mampu mempertahankan dan membela kebenaran. Sebagaimana yang telah Rasulullah ajarkan kepada para sahabatnya, beliau membangun karakter yang tangguh sehingga dapat melahirkan pribadi yang mumpuni, salah satunya adalah karakter Umar bin Khattab, yang sebelum masuk Islam merupakan pribadi yang beringas dan tak terkendali, namun ketika menjadi muslim, Rasulullah membangun karakternya, dan berhasil menjadi pemimpin yang ditempatkan oleh M. Harts dalam “The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History, 1978” pada urutan ke-51 sebagai manusia paling berpengaruh dalam sejarah dunia.

Semasa menjabat sebagai khalifah, khususnya dalam pertempuran Yarmuk (636), pasukan Arab berhasil memukul habis kekuatan Byzantium. Damaskus jatuh pada tahun itu juga, dan Darussalam menyerah dua tahun kemudian. Menjelang tahun 641, pasukan Arab telah menguasai seluruh Palestina dan Suriah, dan terus menerjang maju ke daerah yang kini bernama Turki. Tahun 639, pasukan Arab menyerbu Mesir yang juga saat itu di bawah kekuasaan Byzantium. Sungguh aneh jika ada aliran yang menamai diri mereka sebagai pencinta keluarga Nabi ‘Ahlul bait’ lalu melancarkan fitnah yang keji dan biadab terhadap Umar bin Khattab dan menuduhnya sebagai sahabat yang murtad, serta menganggap Rasulullah telah gagal mengajar dan membina para sahabatnya. Aliran inilah yang disebut Syiah-Rafidhah, yang telah disesatkan oleh MUI Jatim dan Depag RI.

Karakter Religius

Sewaktu mengajar di Malaysia, saya memiliki seorang rekan berkebangsaan Turky yang juga berprofesi sebagai guru di tempat yang sama, beliau adalah lulusan Universitas Al-Azhar Mesir dan mantan wartawan BBC, berkali-kali beliau menceritakan bagaimana orang Turky membangun karakter para pemudanya sehingga sanggup bertahan selama berabad-abad sebagai penguasa Dinasti Utsmaniyah yang terbentang dari Timur Asia hingga Barat Eropa.

Salah satu karakter pemimpin yang dibangun dari keluarga dan guru yang memiliki karakter kuat, tangguh, namun salih adalah seorang pahlawan Islam yang tak pernah lekang oleh zaman. Dialah Muhammad al-Fatih.

Muhammad al-Fatih, sosok yang sejak kanak-kanak telah ditanamkan karakter yang kuat dan melekat dalam jiwanya agar kelak dapat menaklukkan Konstantinopel. Gurunya, selain mengajarkan Islam dan pelbagai ilmu pengetahuan lainnya, rajin mengajak al-Fatih kecil memandangi benteng Konstantinopel di kejauhan sambil berujar. “Lihatlah di seberang sana, Rasulullah pernah bersabda bahwa benteng itu akan ditaklukkan seorang pemimpin yang merupakan sebaik-baik pemimpin dan tentaranya adalah sebaik-baik tentara. Saya percaya pemimpin itu adalah kamu!”

Nyaris setiap hari kata-kata itu dirilis dan akhirnya menumbuhkan karakter yang penuh dengan keyakinan dan semangat yang berapi-api. Sudah delapan abad berlalu, sejak masa sahabat Nabi, Konstantinopel tak pernah tersentuh apalagi tertakluk. Kota yang dikelilingi benteng dengan tembok setebal sepuluh meter, di sekeliling benteng masih terdapat parit dalam yang menganga selebar tujuh meter.

Jika diserang dari arah barat, ada benteng dua lapis. Dari selatan, ada pelaut Genoa yang tangguh dan berpengalaman. Sementara masuk dari arah Timur tidak mungkin karena armada laut harus masuk ke selat Golden Horn yang dilindungi rantai besar hingga kapal perang ukuran kecil pun tak dapat lewat. Ayah dan kakek serta pemimpin perang lainnya telah berkali-kali gagal menaklukkan kota tersebut. Kini al-Fatih kembali mencoba.

Ketika beribu-ribu pasukannya selama berpekan-pekan hanya berada di sekeliling benteng dan tak juga berhasil memasukinya, al-Fatih dengan karakter kuat hasil dari didikan sang guru dan ayah, tak ingin menyerah dan akhirnya menemukan celah, adanya kelemahan pertahanan lawan di selat sempit Golden Horn, mereka beranggapan bahwa tak satu pun kapal yang sanggup melewati rantai yang dipasang dalam laut sehingga menjadikan pertahanan pada bagian ini agak lemah.

Al-Fatih melakukan ide ‘gila’ dengan menggotong kapal pasukannya melalui darat melintasi pegunungan, sebuah sejarah peperangan yang tak perrnah ada sesudah dan sebelumnya bagi umat manusia. Hanya dalam waktu semalam, 70 kapal perang pindah dari laut Selat Bosphorus menuju Selat Tanduk untuk kemudian melancarkan serangan tak terduga yang berakhir dengan kemenangan yang telah dinanti berabad-abad lamanya.

Banyak analisa yang muncul dari para sejarawan, Timur maupun Barat. Namun yang paling berpengaruh dari kesuksesan al-Fatih adalah adanya pendidikan dan penanaman karakter yang tangguh sejak dini. Sang ayah mencarikan guru terbaik dan memberi otoritas penuh pada sang guru untuk mendisiplinkan putra mahkota, termasuk memukul jika ia bandel. Namun al-Fatih kecil menertawakan tindakan ayah dan gurunya itu, tapi saat itu juga pukulan melayang padanya. Sejak saat itu ia tahu jika dirinya harus taat guru, disiplin, menghormati orang tua dan orang lain, menjaga sikap, sekalipun ayahnya seorang khalifah.

Pendidikan karakter yang telah ditanamkan padanya membuat al-Fatih menjadi murid yang cerdas namun salih. Ia menguasai sedikitnya enam bahasa, ilmu politik, pemerintahan, matemattika, pengetahuan alam, ilmu militer, dan lainnya. Saat berumur 19 tahun –masa tawuran bagi para pelajar kita saat ini—beliau sudah didaulat menjadi sultan dan panglima perang dan telah menjadi pribadi yang matang. Pada usia 21 tahun –usia berdemo bagi para mahasiswa kita—al-Fatih menjalankan misi pembebasan konstantinopel yang berhasil dengan gemilang.

Ketika pasukan berhasil menguasai Kota Konstantinopel yang bertepatan dengan hari Jumat. Untuk menentukan siapa yang pantas mengisi khutbah dan menjadi imam salat Jumat, sang Sultan bertanya, “Siapakah yang sejak akil balig hingga hari ini pernah meninggalkan salat wajib lima waktu, yang merasa silahkan duduk!” tak seorang pun yang duduk. Muhammad al-Fatih kembali bertanya, “Siapa yang sejak akil balig sampai hari ini pernah meninggalkan salat sunnat rawatib, yang merasa silahkan duduk!” Sebagian pasukan mulai ada yang duduk. Sultan kembali bertanya, “Siapakah yang sejak akil balig tak pernah alpa melakukan salat tahajjud, yang merasa silahkan duduk!" Semua pasukan mulai duduk kecuali sang sultan sekaligus panglima itu tetap tegak berdiri.

Kota Konstantinopel diubah namanya oleh Al-Fatih dengan Islambul lalu diganti oleh Mustafa Kemal Attarurk dengan Istambul yang kini menjadi ibu kota Turky yang berada di dua Benua, Asia dan Eropa.

Wajar saja jika Rasulullah menggambarkan bahwa yang akan menaklukkan Konstantinopel adalah pemimpin terbaik dengan pasukan terbaik sebagai buah dari pendidikan karakter religius dan berbasis agama yang sinergi antara anak, guru, orang tua hingga penguasa.Wallahu a’lam!


Kamis, 21 Februari 2013

Sepenggal Kisah Umar bin Khathab

“Barang siapa yang menyembah Muhammad sesungguhnya Muhammad telah meninggal dunia. Barangsiapa yang menyembah Allah, sesunggahnya Allah Maha Hidup dan tidak mati.”

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran: 144)

kata-kata singkat dan ayat penuh makna itu keluar dari lisan Abu Bakar ash-shiddiq di hadapan umat Islam. Semuanya bungkam, tak bergeming, seolah-olah baru mendengar ayat ini. seakan-akan ayat ini belum pernah turun sebelumnya. Semakin yakinlah mereka bahwa sosok yang mereka cintai, Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam telah meninggalkan dunia yang fana ini menemui Rabb-nya yang Maha Kekal.

Umar bin Khattab semula tidak percaya bahwa Rasulullah telah wafat. Ia yakin bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pergi menemui Rabb-nya sebagaimana Musa menemui-Nya selama 40 malam. Namun, setelah mendengar petuah dan nasehat mertua Rasulullah, Abu Bakar ash-shiddiq, jatuhlah dia, terduduk di tanah. Kakinya serasa berat untuk digerakkan. Bisa dibayangkan bagaimana sedihnya para sahabat dan umat Islam kehilangan orang tercinta, guru terbaik, sahabat tersayang. tak terkecuali Umar bin Khattab radhiyallahu anhu.

Umar bin Khattab dikenal sebagai sahabat yang keras, tegas, kuat dan sangat disegani hingga Rasulullah bersabda bahwa jika syetan melihat Umar berlalu atau melintasi satu jalan, maka syetan akan memilih jalan lain. Meski demikian, dia juga manusia biasa yang bisa sedih, bisa lemah, terlebih saat mendengar dan melihat sahabatnya meninggal dunia. Berapa banyak nasehat yang didapatnya dari Rasulullah, tak terhitung ilmu yang diterimanya dari Rasulullah hingga dia menjadi manusia yang memiliki derajat tinggi di sisi Allah. Sebelumnya dia adalah penyembah berhala. Cahaya Islam telah membawanya menjadi manusia yang unggul.

Kedekatannya dengan Rasulullah bisa dilihat lewat riwayat-riwayat dah hadits-hadits Nabawiyah. Abdullah bin Abbas sering mendengar Nabi bersabda, “Aku pergi bersama Abu Bakar dan Umar, Aku masuk bersama Abu Bakar dan Umar. Aku keluar bersama Abu Bakar dan Umar.” (Muttafaq ‘alaihi).

Kisah lain dituturkan oleh Anas bin Malik, ”Suatu ketika Nabi, Abu Bakar, Umar, dan Utsman berjalan menaiki Gunung Uhud. Tak lama kemudian gunung itu berguncang. Lalu Nabi bersabda, “Tenanglah, hai Uhud! Sesungguhnya di atasmu ada seorang Nabi, seorang Shiddiq (Abu Bakar), dan dua orang syahid (Umar dan Utsman).” (Muttafaq ‘alaihi).

Umar Menangis

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, Umar juga memiliki hati yang lembut meskipun ia keras dan tegas. Rasulullah pernah menceritakan mimpinya, “Ketika aku tidur, aku bermimpi sedang berada di dalam Surga. Saat itu ada seorang wanita yang berwudhu di samping sebuah Istana. Aku bertanya (kepada para malaikat), “Milik siapakah istana ini?”, mereka menjawab, “Istana ini milik Umar.” Lalu Rasulullah menyebutkan ihwal kecemburuan Umar terhadap apa yang menjadi miliknya lalu pergi. Mendengar perkataan Rasulullah, air mata Umar pun menetes, “Pantaskah aku cemburu kepada engkau wahai Rasulullah?” ucapnya kemudian.

Ketika tersebar kabar bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam hendak menceraikan istri-istrinya, umar merasa resah. Kemudian ia menemui Rasulullah di dalam kamarnya. Umar masuk ke kamar dan menjumpai Nabi sedang berbaring di atas sehelai tikar yang terbuat dari pelepah daun kurma, sehingga badan Nabi berbekas. Umar juga melihat tiga lembar kulit binatang yang telah disamak dan sedikit gandum di sudut kamar. Selain itu tak terdapat apapun. Melihat pemandangan kamar demikian, menangislah Umar. Umar prihatin melihat keadaan Rasulullah, sangat jauh berbeda dengan keadaan Kaisar Romawi dan Kisra yang hidup mewah bergelimang harta. Rasulullah pun menasehatinya, “Wahai Umar, sepertinya engkau masih ragu dengan hal ini. kenikmatan di akhirat, tentu lebih baik daripada kesenangan hidup dan kemewahan di dunia ini. jika orang-orang kafir itu dapat hidup mewah di dunia ini, kita pun akan memperoleh segala kenikmatan itu di akhirat nanti. Di sana kita akan mendapat segala-galanya.” Mendengar sabda Rasulullah, Umar pun menyesal dan meminta pada Rasulullah agar memohonkan ampun pada Allah untuk dirinya.

Makam Umar bin Khattab

Umar terbunuh di kota Madinah akibat tikaman sebilah pisau beracun Abu Lu’luah seorang Majusi Persia (baca: Iran) saat meng-imami kaum muslimin shalat subuh. Di kemudian hari Abu Lu’luah ini dipuja-puja oleh kelompok Syi’ah Rafidhah karena berhasil membunuh orang yang telah menghancurkan dan menaklukkan Persia.

Umar memang mendambakan dan menginginkan mati syahid fi sabilillah di kota Madinah, dan Allah mengabulkan do’anya itu. Ia juga dimakamkan bersebelahan dengan dua sahabatnya tercinta, yaitu Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan Abu Bakar ash-shiddiq.

Ada satu kisah menarik berkenaan dengan makam Umar dan Abu Bakar ini. Kisah ini terdapat dalam Majalah Qiblati edisi Ramadhan 1433 H.

Alkisah, ada seorang syiah yang berkunjung ke kota Madinah dan hendak menziarahi makam Rasulullah. Ketika ia sampai di makam Rasulullah, ia memberi salam dan mendo’akan beliau. Ada yang aneh, dia melihat orang-orang di dekatnya ikut mendoakan dua makam di dekat makam Rasulullah. Dua makam itu tidak lain adalah makam Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Alangkah kaget dan terkejut dia melihat hal tersebut. Musuh terbesar dalam agamanya yaitu Abu Bakar dan Umar, musuh yang selalu ia cela, maki, dan ia kafirkan selama ini justru dikuburkan berdampingan dengan makam orang yang dicintainya. Bagaimana mungkin musuh dimakamkan dekat dengan Rasulullah!? Ia pun tersadar, dan merasa dibohongi oleh para ulama syi’ah. Kemudian dia bertaubat memohon ampun pada Allah dan mengganti aqidahnya dari syi’ah menjadi ahlus sunnah. (Kisah lengkapnya Anda bisa baca pada link ini: http://galerisunnah.blogspot.com/2013/02/islamnya-seorang-penganut-syiah.html

Tidaklah terlalu mengherankan, karena imam Syiah sendiri (orang yang yang mereka anggap sebagai Imam), Ali bin Musa Ar-Ridha dikuburkan dekat dengan makam khalifah Abbasiyah yang Sunni, Harun ar-Rasyid di kota Masyhad (dulu bernama Thus), Iran. Bahkan, orang yang dianggap sebagai Imam ke-8 oleh orang Syi’ah ini yang meminta sendiri agar dimakamkan di sisi makam Harun ar-Rasyid. Makam Imam Ali bin Musa ar-Ridha melekat dengan makam Harun Ar-Rasyid di bawah kubah yang sama dalam masjid yang sama di Kota Masyhad, Iran.

Kata Syaikh Mamduh Farhan Al-Buhairi, “Tidak mungkin seorang laki-laki memberikan wasiat untuk dikuburkan di sisi jenazah seseorang, melainkan jika jenazah tersebut termasuk golongan orang-orang shalih dan bertakwa.” (Majalah Qiblati, edisi Rabiul Akhir 1433 H)

Bagaimana tanggapan Syi’ah atas kuburan Umar yang berada di sisi Rasulullah dan Imam Ali ar-Ridha yang berada bersebelahan dengan makam Harun ar-Rasyid? Biarlah mereka yang menjawabnya.


Senin, 18 Februari 2013

Nasehat Bagi Para Peminta Jabatan


Penulis: Ummu Muhammad Anik Rahmawati
Muraja’ah: Ust. Aris Munandar

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : [ إنكم ستحرصون على الإمارة وستكون ندامة يوم القيامة ] رواه البخاري


Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya kalian akan berambisi merebut jabatan, dan nanti pada hari kiamat jabatan-jabatan itu akan menjadi penyesalan.” (HR. Bukhari)

Maha benar Allah dan Rasul-Nya, fenomena ini nampak jelas di hadapan kita. Masih terekam jelas di dalam ingatan kita saat Pemilu dilaksanakan beberapa saat yang lalu. Sejak pemilu dilaksanakan secara langsung nampaklah orang-orang yang berambisi terhadap dunia memperebutkan suatu kedudukan yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Mereka tidak sadar akan hal tersebut, bahwa jabatan adalah sebuah amanat yang sangat berat. Tidak hanya di dalam Pemilu, saat ini banyak sekali jabatan yang diperebutkan melalui sistem pemilihan. Mulai dari bupati, walikota, rektor universitas, kepala desa atau bahkan sekedar ketua BEM sebuah fakultas.

Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang memintanya, sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut,

عن أبي سعيد عبد الرحمن بن سمرة رضي الله عنه قال قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم : [ يا عبد الرحمن ابن سمرة لا تسأل الإمارة فإنك إن أعطيتها عن غير مسألة أعنت عليها وإن أعطيتها عن مسألة وكلت إليها ] متفق عليه


Dari Abu Sa’id ‘Abdurrahman bin Samurah, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada saya, “Hai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta jabatan karena apabila kamu diberi jabatan tanpa meminta, maka kamu akan ditolong dalam melaksanakannya dan apabila kamu diberi karena meminta maka pelaksanaan jabatan itu sepenuhnya diberikan kepadamu.” (HR. Muslim)

Dari hadits di atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa Allah Ta’ala tidak akan menolong orang-orang yang mendapatkan jabatan karena meminta, jadi bagaimana mungkin mereka dapat menjalankan amanat tersebut, kalau Allah telah berlepas diri darinya, maka takutlah wahai para peminta jabatan!

Juga telah diriwayatkan dari Abu Dzar,

قلت : يا رسول الله ألا تستعملني ؟ فضرب بيده على منكبي ثم قال : [ يا أبا ذر إنك ضعيف وإنها أمانة وإنها يوم القيامة خزي وندامة إلا من أخذها بحقها أدى الذي عليه فيها ] رواه مسلم


Saya berkata, “Wahai Rasulullah kenapa engkau tidak memberi jabatan kepada saya?” Beliau langsung menepukkan tangannya di atas pundakku, kemudian bersabda, “Ya Abu Dzar, sesungguhnya engkau ini lemah dan jabatan itu amanah, pada hari kiamat ia akan menjadi penghinaan dan penyesalan kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan haknya dan menunaikan hak jabatan yang menjadi kewajibannya.” (HR. Muslim)

Hal lain yang membuat mata ini sesak ketika keluar rumah adalah terpampangnya gambar para peminta jabatan dimana-mana, di masa-masa kampanye. Di setiap penjuru jalan yang selalu terlihat dimata adalah foto para peminta jabatan dengan aksi yang bermacam-macam, padahal kalau kita ingat hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambahwa malaikat tidak akan masuk rumah yang di dalamnya terdapat gambar makhluk, maka bagaimana kita mengharapkan kebaikan untuk negara kita kalau kita masih sangat jauh dari jalan Islam yang sesungguhnya.

Kemudian yang lebih menyedihkan adalah para wanita ikut ramai di dalamnya, mereka tidak mau kalah ingin memperebutkan jabatan itu. Padahal para wanita mempunyai tugas tersendiri yang sesuai dengan fitrah dan kemampuannya, yaitu melakukan perbaikan terhadap bangsa ini dari balik tembok (di dalam rumah mereka), yaitu dengan mendidik anak-anaknya, mempersiapkan mereka sebaik mungkin untuk menjadi generasi penerus bangsa. Karena seorang ibu adalah madrasah (sekolah) yang pertama dan utama bagi anak-anaknya. Itulah tugas mulia yang diemban para wanita, semoga kita diberi taufik untuk bisa melakukannya.

***

Sumber